Friday, 23 August 2019

Peranan Unsur Hara bagi Tanaman


Peranan Unsur Hara bagi Tanaman

Unsur hara yang dibutuhkan tanaman sedikitnya ada 60 jenis unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dari sekian banyak unsur hara tersebut, sebanyak 16 unsur atau senyawa diantaranya merupakan unsur hara esensial yang mutlak dibutuhkan tanaman untuk mendukung pertumbuhannya.


Dari 16 unsur hara tersebut, 3 diantaranya tidak terlalu bermasalah karena ketersediaannya di alam melimpah. Ketiga tersebut adalah Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O). Ketiganya dapat diperoleh bebas dari udara. Kebutuhan air dapat diperoleh dati tanah dan dari air penyiraman (Parnata, 2004). Menurut Subroto dan Yusrani (2005), unsur-unsur hara atau nutrient tanaman merupakan unsur kimia yang berbentuk ion, molekul, senyawa atau larutan. Secara alami, unsur-unsur hara tersebut terdapat dan tersedia di dalam tanah dan diserap oleh tanaman melalui akarnya dalam bentuk ion atau larutan. Namun ada beberapa unsur hara dapat juga diberikan dan diserap tanaman lewat daunnya. Kekurangan unsur hara tersebut dapat diperbaiki dengan cara pemupukan.

Berikut ini peranan 16 unsur hara esensial bagi tanaman:

Karbon (C)

Karbon yang digunakan oleh tumbuhan berasal dari karbondioksida (C02) yang ada di udara. Karbon berfungsi untuk membentuk karbohidrat, lemak dan protein yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, berfungsi untuk membentuk selulosa yang merupakan dinding sel dan memperkuat bagian tanaman. Unsur karbon juga bisa menciptakan rasa wangi pada air yang terdapat di dalam buah dan bunga, serta membentuk warna daun dan bunga (Parnata, 2004).

Hidrogen (H)

Hidrogen diperoleh tanaman dalam bentuk senyawa H20 atau air (Subroto dan Yusrani, 2005). Air dapat diperoleh tanaman dari udara dan tanah. Hidrogen berguna dalam proses pembentukan gula (glukosa) menjadi karbohidrat dan sebaliknya, serta proses pembentukan lemak dan protein (Parnata, 2004).

Oksigen (O)

Oksigen diserap tanaman dalam bentuk senyawa 02 atau oksigen bebas (Subroto dan Yusrani, 2005). Oksigen dibutuhkan tanaman untuk membentuk bahan organik tanaman. Seluruh tanaman, baik akar, batang, daun, bunga, dan buah memerlukan oksigen. Oksigen dibutuhkan dalam sel tanaman untuk mengubah karbohidrat menjadi energi, proses ini disebut oksidasi (Parnata, 2004).

Nitrogen (N)

Unsur N diserap oleh sebagian besar tanaman dalam bentuk ion Nitrat (N03) dan Amonium (NH4+) (Subroto dan Yusrani, 2005). Nitrogen berperan untuk memacu pertumbuhan tanaman secara umum terutama pada fase vegetatif, berperan dalam pembentukan kiorofll, membentuk lemak, protein dan persenyawaan Iain (Marsono dan Sigit, 2002).

Fosfor (P)

Sebagian besar tanaman menyerap unsup P dalam bentuk offhofosfat primer (H2P04-) dan sebagian kecil dalam bentuk orthofosfat sekunder (HPC)c-) (Subroto dan Yusrani, 2005). Fosfor berperan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, sebagai bahan dasar protein (ATP dan ADP), membantu asimilasi dan respirasi, mempercepat proses pembungaan dan pembuahan, serta pemasakan biji dan buah (Marsono dan Sigit, 2002).

Kalium (K)

Unsur K diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+ (Subroto dan Yusrani, 2005). Fungsi utama kalium ialah membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Kalium juga berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Selain itu, kalium merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit (Lingga dan Marsono, 2006).

Kalsium (Ca)

Kalsium di dalam tanah diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Ca-(Subroto dan Yusrani, 2005). Kalsium berperan untuk mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta menguatkan batang. menetralisir senyawa dan kondisi tanah yang merugikan (Marsono dan Sigit, 2002).

Magnesium (Mg)

Unsur Magnesium diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Mg (Subroto dan Yusrani, 2005). Magnesium berperan untuk membantu proses pembentukan hijau daun atau klorofil. Selain itu, berfungsi untuk membentuk karbohidrat, lemak dan minyak, serta berfungsi membantu proses transportasi fosfat dalam tanaman (Parnata, 2004).

Sulfur (S)

Sulfur diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion S04 - dan sedikit sekali dalam bentuk gas Sulfur dioksida (S02) yang diserap lewat daun tanaman (Subroto dan Yusrani, 2005). Sulfur sangat membantu tanaman dalam membentuk bintil akar, pertumbuhan tunas, dan pembentukan hijau daun (klorofil). Sulfur merupakan unsur penting dalam pembentukan berbagai jenis asam amino (Parnata, 2004).

Klor (Cl)

Unsur Klor diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Cl- (Subroto dan Yusrani, 2005). Klor berperan membantu meningkatkan atau memperbaiki kualitas dan kuantitas produksi tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).

Besi atau Ferrum (Fe)

Unsur besi dapat diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Fe- dan Fe (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur besi berveran pada proses-proses fisiologis tanaman, seperti proses pernapasan dan pembentukan klorofil (Marsono dan Sigit, 2002).

Mangan (Mn)

Unsur Mangan diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Mn2+ (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur mangan berperan dalam proses asimilasi dan sebagai komponen utama dalam pembentukan enzim-enzim pada tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).

Tembaga atau Cuprum (Cu)

Unsur Tembaga dapat diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Cu dan dapat juga diserap dalam bentuk garam organik kompleks (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur Tembaga berperan sebagai pendorong proses pembentukan klorotil dan sebagai komponen dalam pembentukan enzim tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).

Boron (B)

Unsur Boron di dalam tanah diserap oleh tanaman dalam bentuk beberapa ion, seperti B407 - , H2B03-, HBO3-, atau BOs-, dan umumnya diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit (Sobroto dan Yusrani, 2005). Unsur Boron berperan membawa karbohidrat keseluruh jaringan tanaman, mempercepat penyerapan unsur kalium, berperan pada pertumbuhan tanaman khususnya di bagian yang masih aktif, meningkatkan kualitas produksi sayuran dan buah-buahan (Marsono dan Sigit, 2002).

Molibdenum (Mo)

Unsur Molibdenum dapat diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion yang diserap hanya dalam jumlah sedikit karena Mo sangat beracun bagi tanaman dan hewam bila sedikit melampaui ambang batas keperluan tanaman (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur Molibdenum berperan sebagai pengikat nitrogen bebas di udara, dan menjadi komponen pembentuk enzim pada bakteri bintil akar tanaman Leguminosae (Marsono dan Sigit, 2002).

Seng (Zn)

Unsur Seng diserap oleh akar tanaman dalam bentuk ion Zn dan dapat juga disemprotkan lewat daun, yang kemudian diserap oleh tanaman lewat daun dalam bentuk molekul organik kompleks (Subroto dan Yusrani, 2005). Unsur seng berperan dalam pembentukan hormon dalam tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).

Tinjauan Umum Pupuk Daun Green Tonik


Tinjauan Umum Pupuk Daun Green Tonik

Pupuk daun adalah segala macam pupuk yang diberikan lewat daun dengan cara penyemprotan. Pupuk daun disemprotkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah, hal ini disebabkan umumnya daun memiliki mulut daun (stomata) menghadap ke bawah. Konsentrasi pupuk harus sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Lebih baik konsentrasinya kurang daripada berlebihan. Kalau dosisnya kurang dari yang dianjurkan, pengimbangannya dengan cara frekuensi pemupukan dipercepat. Paling ideal penyemprotan dilakukan sore atau pagi hari saat sinar matahari belum begitu menyengat. Kalau dipaksakan penyemprotan saat panas, pupuk daun akan lebih banyak menguap dibanding diserap daun.


Penyemprotan pun jangan dilakukan menjelang musim hujan karena pupuk akan tercuci habis oleh air hujan, lagipula saat seperti ini stomata sedang menutup. Penyemprotan yang tepat dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00-10.00 atau sore pukul 15.00-17.00 karena pada saat itulah stomata sedang membuka sempurna sehinga resiko kehilangan pupuk dapat ditekan (Lingga dan Marsono, 2008).

Pupuk daun Green Tonik merupakan formula baru yang dibuat khusus untuk merangsang pertumbuhan dan kesuburan semua jenis tanaman, terutama untuk melebatkan bunga, memperbanyak dan memperbesar buah. Kandungan unsur hara pupuk daun Green Tonik meliputi unsur hara makro yaitu : 14,73 % N, 1,56% P205, 2,55 % K20, 1,33 % Ca, 09,02% Mg, 0,33% S, dan unsur hara mikro berupa 706,38 ppm Fe, 17,18 ppm Mn, 111,77 ppm Zn, 615,63 ppm B, 2,25 ppm Cu. Selain itu, pupuk ini mengandung senyawa-senyawa organik seperti protein, lemak, zat perekat, dan zat organik yang kesemuanya dapat diserap oleh seluruh bagian tanaman mulai dari daun sampai ke akar. Konsentrasi pupuk daun Green Tonik yang dianjurkan untuk tanaman sayuran antara 2-3 ml/L air (Yan Utama, 2008).

Thursday, 22 August 2019

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Leci

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Leci

Pada dasarnya tanaman leci dapat tumbuh dengan baik pada iklim tropis. Tanaman buah ini termasuk ke dalam familia lerak-lerakan Sapindaceae. Tanaman buah ini sudah tersebar di seluruh belahan dunia seperti di Tiongkok, India, Madagaskar, Nepal, Bangladesh, Pakistan, Taiwan bagian selatan dan tengah, Vietnam utara, Indonesia, Thailand, Filipina, Afrika Selatan dan Meksiko. Buah leci rasanya segar dan wangi yang khas.


Di Asia, buah leci dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan dijadikan produk ekspor menjadi buah kaleng. Buah leci sering dijadikan toping kue puding yang dapat menambah tekstur kelejatan dan menambah penampilan yang cantik.

Terdapat kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh manusia seperti vitamin C dan Potasium yang cukup tinggi. Dalam dunia industry makanan dan minuman, buah leci dikalengkan, dibuat selai dan sirup minuman segar ekstrax buah leci.

Bagi tubuh manusia, buah leci memiliki banyak manfaat di dalam bidang kesehatan. Buah leci dapat mengatasi masalah kesehatan manusia seperti dapat mengurangi tumor, meredakan batuk, mengatasi masalah usus, mencegah diare dan mencegah cacar.

Klasifikasi Tanaman Leci

Kingdom: Plantae
(tanpa takson): Angiospermae
(tanpa takson): Eudikotil
(tanpa takson): Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Sapindaceae
Genus: Litchi Sonn.
Spesies: L. chinensis

Morfologi Tanaman Leci

Buah leci berukuran kecil berbentuk bulat seperti kelereng. Daging buah berwarna putih bening dengan lapisan kulit berwarna merah. Rasa buahnya asam manis segar dan enak serta bau wangi yang khas.

Tanaman leci dapat tumbuh mencapai 12-25 meter. Berbunga banyak dan sempurna tersusun dalam satu malai atau disebut panicula.

Berdaun majemuk dengan jumlah 5-9 helai. Daun berwarna hijau berbentuk oval dan juga bulat telur. Pertulangan daun menyirip, memiliki tangkai silindris.

Tinjauan Umum Tanaman Mentimun


Tinjauan Umum Tanaman Mentimun

Asal tanaman mentimun

Mentimun merupakan salah satu jenis sayuran dari keluarga labu-labuan (Cucurbitacceae) yang sudah populer di seluruh dunia. Menurut sejarahnya, tanaman mentimun berasal dari benua Asia. Beberapa sumber pustaka menyebutkan daerah asal tanaman mentimun adalah Asia Utara, tetapi sebagian Iagi menduga berasal dari Asia Selatan. Para ahli tanaman memastikan daerah asal tanaman mentimun adalah India tepatnya di lereng gunung Himalaya.


Kandungan gizi buah mentimun tiap 100 gram bahan mentah (segar) adalah energi (12,00 kalori), protein (0,60 g), karbohidrat (2,40 g), serat (050 g), abu (0,40 g), Kalsium (19,00 mg), Fosfor (12,00 mg), Kalium (122,00 mg), Zat Besi (0,40 mg), Natrium (5,00 mg), Vitamin A (0 S.I.), Vitamin B1 (0,02 mg), Vitamin B2 (0,02 mg), Niacin (0, 10 mg), Vitamin C (10,00 mg), dan Air (96,10 g) (Rukmana, 1994).

Taksonomi dan morfologi tanaman mentimun

Menurut Samadi tanaman mentimun dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan sebagaj berikut:

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativus L.

Menurut Rukmana (1994), tanaman mentimun merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantara pemegang yang berbentuk pilin atau spiral.

Akar timun

Perakaran mentimun memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akar, tetapi daya tembusnya relatif dangkal, pada ke dalaman sekitar 30-60 cm. Oleh karena itu, tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air.

Daun timun

Daun berbentuk bulat lebar, persegi mirip jantung dan bagian ujung daunnya meruncing. Daun ini tumbuh berselang-seling keluar dari buku-buku (ruas batang).

Batang timun

Batang tanaman mentimun basah, berbulu serta berbuku-buku. Panjang bias mencapai 50-250 cm, bercabang dan bersulur yang tumbuh di sisi tangkai daun.

Bunga timun

Pada dasarnya mentimun memiliki bunga yang sempurna. Bentuk bunga mirip terompet yang mahkota bunganya berwarna putih atau kuning cerah.

Buah timun

Buah berbentuk bulat panjang atau bulat pendek, kulitnya ada yang berbintil-bintil, ada pula yang halus permukaannya. Warna kulit buah antara hijau keputih-putihan, hijau muda, dan hijau gelap.

Biji timun

Biji bentuknya pipih, kulitnya berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat.

Syarat tumbuh tanaman mentimun

a. Faktor iklim

Mentimun dapat tumbuh baik mulai di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 1000 m dpl (Sunarjono, 2008). Selama pertumbuhannya, tanaman mentimun membutuhkan iklim kering, sinar matahari 26,70C yang cukup (tempat terbuka), dan temperatur berkisar antara 21,10.
Berbagai mentimun hibrida umumnya ditanam di dataran tinggi antara 1000-1200 m dpl. Tanaman mentimun kurang tahan terhadap curah hujan yang tinggi. Hal ini akan mengakibatkan bunga-bunga yang terbentuk berguguran, sehingga gagal membentuk buah (Rukmana, 1994).

b. Faktor tanah

Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan kualitasnya baik, tanaman mentimun membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus, tidak menggenang (becek), dan pH-nya berkisar antara 6-7 (Rukmana, 1994).

Tinjauan Umum Tanaman Karet


Tinjauan Umum Tanaman Karet

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) berasal dari Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan karet alam dunia. Tanaman karet mempunyai batang yang cukup besar. Tinggi tanaman dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis Penebar Swadaya, 1996).


Menurut Tim Penulis Penebar Swadaya (1996), tanaman karet dalam dunia tumbuhan tersusun dalam sistematika sebagai berikut:

Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dycotyledonae
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasiliensis

Budidaya tanaman karet berkaitan dengan beberapa hal berikut:

1. Syarat Tumbuh Tanaman Karet

Menurut Tim Penulis Penebar Swadaya (1996), tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 1-600 m dari permukaan laut. Hampir di seluruh daerah di Indonesia karet dapat tumbuh subur. Curah hujan yang cukup tinggi antara 2.000-2.500 mm setahun sesuai untuk tanaman karet. Sinar matahari yang cukup melimpah di negara-negara tropis merupakan syarat lain yang diinginkan tanaman karet. Dalam sehari tanaman karet membutuhkan sinar matahari dengan intensitas yang cukup selama 5-7 jam.

Tanaman karet adalah tanaman yang paling toleran terhadap tanah yang kesuburannya rendah dibanding dengan tanaman kopi, cokelat, teh, dan tembakau. Tanah yang kurang subur seperti podsolik merah kuning dengan bantuan pemupukan dan pengelolaan yang baik bisa dikembangkan menjadi perkebunan karet dengan hasil yang memuaskan. Tanah latosol dan alluvial juga bisa dikembangkan untuk penanaman karet. Derajat keasaman yang paling cocok adalah 5-6. Batas toleransi pH tanah adalah 4-8. Tanah yang agak asam masih lebih baik daripada tanah yang basa.

Pengolahan Lahan

Ada dua jenis penanaman karet, yaitu penanaman baru dan peremajaan. Penanaman baru adalah usaha penanaman karet di areal yang belum pernah dipakai untuk budidaya karet. Peremajaan adalah usaha penanaman ulang di areal karet karena tanaman lama sudah tidak produktif lagi. Kegiatan pengolahan lahan baik untuk penanaman baru maupun peremajaan adalah sama. Langkah pertama pengolahan lahan adalah membabat pepohonan yang tumbuh. Pembabatan dapat dilakukan secara manual menggunakan kapak dan gergaji. Setelah pepohonan dibabat, tahap berikutnya membongkar tanah dengan cangkul atau traktor. Dalam pembongkaran ini sekaligus dilakukan pembersihan sisa-sisa akar, rizoma, alang-alang, dan bebatuan karena akan mengganggu perakaran tanaman karet. Jika lahan tidak berkontur rata, tetapi memiliki kemiringan lebih dari 100, sebaiknya dibuat teras dengan lebar minimum 3 m. Teras ini dibuat untuk mencegah erosi. Kebun karet memerlukan sarana berupa jalan, baik untuk pemeliharaan tanaman maupun kegiatan produksi (Setiawan dan Andoko, 2008).

Penanaman

Menurut Setiawan dan Andoko (2008), tanaman karet dapat ditanam secara monokultur maupun tumpangsari.

a. Monokultur

Penanaman karet secara monokultur bisa menggunakan jarak tanam berbentuk segitiga atau tidak teratur. Jarak tanam segitiga hanya bias diterapkan di lahan berkontur datar atau mendekati datar. Jarak tanam tidak teratur bisa diterapkan di lahan yang berbukit-bukit.

b. Tumpangsari

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam penanaman karet dengan cara tumpangsari adalah jarak tanam jangan telalu rapat agar tidak terjadi persaingan dalam memperebutkan unsur hara. Dalam penanaman dengan cara tumpangsari, tanaman tumpangsari berfungsi sebagai pagar atau mengapit tanaman utama.

Perawatan

Tanaman yang belum berproduksi sering disebut dengan komposisi yaitu tanaman berumur 1-4 tahun. Perawatan tanaman karet belum berproduksi meliputi penyulaman, penyiangan, pemupukan, seleksi dan penjarangan, serta pemeliharaan tanaman penutup tanah.

Setelah menginjak umur lima tahun atau mulai disadap, tanaman karet sering disebut dengan komposisi II. Perawatan tanaman selama masa produksi dimaksudkan agar kondisi tanaman dalam keadaan baik, produksinya dapat meningkat, dan masa produktifnya semakin panjang. Perawatan tanaman pada masa produksi ini hanya meliputi penyiangan dan pemupukan (Setiawan dan Andoko, 2008).

Hama dan Penyakit

Menurut Setiawan dan Andoko (2008), hama yang menyerang tanaman karet terbagi dalam dua fase.


  1. Hama pada fase pembibitan: tikus, belalang, siput, dan uret tanah.
  2. Hama pada fase penanaman sampai produksi: rayap, kutu, tungau, babi hutan, rusa dan kijang, tapir, monyet, tupai, dan gajah.


Penyakit tanaman karet menyerang dari wilayah akar, batang, bidang sadap, hingga daun. Penyakit yang menyerang akar adalah penyakit akar putih dan penyakit akar merah. Penyakit yang menyerang batang antara lain jamur upas, kanker bercak, dan busuk pangkal batang. Penyakit yang menyerang bidang sadap yaitu kanker garis, mouldy rot, dan brown blast. Penyakit yang menyerang daun antara lain embUn tepung, colletotrichum, phytophthora, corynespora, dan helminthosporium (Setiawan dan Andoko, 2008).

Penyadapan

Penyadapan adalah kegiatan pemutusan atau pelukaan pembuluh lateks di kulit pohon, sehingga dari Iuka tersebut akan keluar lateks. Pembuluh lateks yang terputus atau terluka tersebut akan pulih kembali, sehingga jika dilakukan penyadapan untuk kedua kalinya tetap akan mengeluarkan lateks.

Kriteria umum untuk menentukan tanaman karet sudah matang sadap atau belum adalah dengan melihat umurnya. Umur tanaman karet yang telah matang sadap adalah lima tahun, dengan catatan tanaman berada di lingkungan yang sesuai dan pertumbuhannya normal. Kriteria lain adalah dengan melihat ukuran lingkar pohon atau lilit batang. Jika lilit batang sudah mencapai 45 cm yang diukur pada jarak 100 cm dari pertautan okulasi, pohon karet sudah masuk kriteria matang sadap (Setiawan dan Andoko, 2008).

Manfaat dari Anggaran


Manfaat dari Anggaran


Sebagai suatu teknik penyelenggaraan perusahaan, maka setiap kegiatan yang dilaksanakan diharapkan mempunyai kegunaan untuk mencapai tujuan perusahaan, begitu pula dalam hal penyusunan budget, secara teori dapat dikemukakan sebagai berikut : menurut Gunawan Adisaputro dan Marwan Asri (2003: 50) memerinci kegunaan dari anggaran , terdapat 3 (tiga) aktivitas perusahaan yaitu :

a. Perencanaan
b. Koordinasi
c. Pengendalian

Untuk lebih jelasnya mengenai fungsi anggaran dalam hal perencanaan, koordinasi, dan pengendalian tersebut di atas dikemukakan sebagai berikut:

a. Hubungan Anggaran dengan Perencanaan

Setelah pimpinan menetapkan pilihan yang paling tepat atau yang paling baik berkenan dengan harga hasil pengeluaran teknik produksi dan sebagainya, maka pilihan ini diwujudkan dalam satu tindakan formal dan perencanaan terpadu. Hal ini merupakan salah satu tujuan yang paling penting dalam proses anggaran juga yang memaksa seorang pimpinan untuk benar-benar yakin bahwa setiap pilihan yang dibuat mempunyai hubungan koordinasi dengan pilihan yang diambil sebelumnya.

b. Hubungan Budget dengan Koordinasi

Budget tidak dapat dipisahkan dengan manajemen koordinasi di dalam perusahaan dimana perusahaan terdiri dari banyak departemen, karena koordinasi berhubungan dengan sinkronisasi yang menyeluruh yaitu terdiri dari jumlah, waktu, arah, dan mempunyai arti yang lebih luas dari pada koperasi. Di dalam organisasi ini tujuannya menyelaraskan dari rencana atau planning perusahaan ke dalam aktivitas-aktivitasnya supaya organisasi daripada perusahaan berjalan secara efektif dan efisien sesuai budget yang telah dibuat.

Koordinasi tidak dapat diperintahkan, atau dipaksakan tetapi dapat dilakukan dengan baik dengan permintaan, permohonan kepada organisasi perusahaan yang terkait. Hal ini akan lebih diresapi dan ditaati oleh pala pelaksana organisasi perusahaan, karena merasa dihargai,

c. Hubungan Budget dengan Pengendalian

Hubungan Budget dengan Pengendalian merupakan estimasi yang diharapkan terjadi, seperti membuat kriteria atau standar untuk mengevaluasi hasil. Suatu perbandingan yang dianggarkan dengan jumlah nyata sebagai dasar untuk mengevaluasi hasil yang lalu dengan tindakan yang akan datang. Supaya lebih efektif digunakan sebagai pengendali dan anggaran harus dikembangkan sebagai alat untuk menunjang produksi, pemasaran, administrasi dan sebagainya.

Hal-hal tersebut kemudian disatukan dalam induk anggaran perusahaan secara keseluruhan. Dengan cara ini hasil dari setiap pertanggung jawaban dapat dievaluasi berkenan dengan kegiatan-kegiatan yang akan diawasi selama jangka waktu tertentu.

Total Pageviews

Kategori