Showing posts with label Taksonomi/Klasifikasi dan morfologi tanaman. Show all posts
Showing posts with label Taksonomi/Klasifikasi dan morfologi tanaman. Show all posts

Thursday, 27 October 2016

Deskripsi Kayu Bawang (Scorodocarpus borneensis Becc)

Deskripsi Kayu Bawang

Nama dearha kayu bawang (S. borneensis Becc.) antara lain kayu bawang, kulim, rengon (Sumatra); ansam, bawang, bawang utan, merca, madudu, sedau, selaru, terdu, dan sinduk (Kalimantan). Buah kayu bawang berbentuk bulat besar dan berdaging, berbiji atau dengan diameter kurang lebih 5 cm dilapisi oleh lapisan daging tipis yang bewarna hijau dan segara menjadi busuk. Bila buah jatuh di atas tanah akan terlihat bagian buah yang keras dan berkeriput atau bebrurat (Martawijaya dkk, 1989). Daun tunggal, berselang-seling, bunganya kecil bewarna hijau atau putih, biasanya biseksual, mahkota terdiri dari 4-6. Benang sari sama atau dua kali banyaknya daun mahkota, ketika jumlahnya banyak letak benang sari membelakangi petal. Tinggi pohon kayu bawang dapat mencapai 40 m dengan tinggi bebas cabang (bagian batang yang tidak bercabang) dapat mencapai kurang lebih 25 m dan diameternya dapat mencapai 80 cm, berbuah pada bulan Juni-September (Keng, 1969).

Kayu teras kayu bawang bewarna merah tua atau coklat kelabu, semu-semu lembayung, kayu gubal bewarna kekuning-kuningan atau kemerah-merahan, agak jelas dibedakan dengan kayu teras. Tekstur kayu halus dan merata dengan arah serta lurus atau terpadu dan permukaan kayu licin (Martawijaya dkk, 1989). Kayu bawang ini mudah dikenali karena memberikan bau yang khas seperti bawang putih dari kulit dan buahnya. Pohon ini mempunyai kekhasan yaitu kulit yang lepas dari irisannya bewarna ungu, kulit tersebut tebal, dari luar bewarna merah kecoklat-coklatan dan dapat lepas menjadi bagian yang kecil berbentuk lempeng segi empat (Hayne, 1987).

Klasifikasi Pohon Kayu Bawang

Menurut Keng (1969), klasifikasi tumbuhan kayu bawang (S. borneensis Becc) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angeospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Santalales
Famili : Olacaceae
Genus : Scorodocarpus
Spesies : Scorodocarpus borneensis Becc.

Penyebaran Kayu Bawang

Menurut Heyne (1987), kayu bawang tumbuh di hutan tropis primer dan tersebar di bagian barat Nusantara, tumbuh di daerah rendah dan bukit sampai ketinggian 300 m dpl, terutama pada tanah kering atau berpasir, tidak pernah di rawa-rawa, tidak membentuk hutan murni, tetapi hutan rimba tumbuh secara berkelompok dan hanya di tempat-tempat tertentu tumbuh secara umum. Daerah penyebarannya meliputi sumatra utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Palembang, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Daftar Pustaka 
  • Heyne, K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia Jilid II. Yayasan Winajaya: Jakarta.
  • Keng, H. 1969. Ordes and Families of Malaya Seed Plants. Singapure: University Press.

Saturday, 8 October 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman Kopi Dengan Pengertiannya

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kopi

Pengertian Kopi: Kopi (Coffea sp.) adalah spesies tanaman berbentuk pohon yang termasuk kedalam famili Rubiaceae dan genus Cofeea. Tanaman kopi tumbuhnya tegak, bercabang, dan bila dibiarkan tumbuh dapat mencapai tinggi 12 meter. Daunnya bulat telur dengan ujung agak meruncing. Daun tumbuhan berhadapan pada batang, cabang, dan ranting-rantingnya (Najiyati dkk, 1990).

Sejarahnya: Kopi untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada tahun 1996 melalui Malabar dan ditanam di perkebunan Kedawoeng di Batavia (Jakarta) sejak tahun tersebut tanaman kopi mulai dikembangkan di Indonesia dan mulai menjadi komoditas perdagangan karena dapat dimanfaatkan menjadi minuman yang menyegarkan badan dan pikiran serta rasa yang khas dari kopi tidak bisa digantikan oleh minuman lainnya (Samsulbahri, 1996).

Adapun klasifikasi tanaman kopi, yaitu:

Klasifikasi ilmiah tanaman kopi
Kingdom Plantae
Divisi Tracheophyta
Subdivision Spermatophita
Kelas Magnoliopsida
Ordo Gentianales
Family Rubiaceae
Sub FamilyIxoroideae
Genus Coffea
SpeciesCoffea sp

Morfologi tanaman kopi

Species tanaman berbentuk pohon yang termasuk dalam famili Rubiaceae dan genus Coffea. Terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan buah

1. Akar

Tanaman kopi memiliki akar tunggang sehingga tidak mudah rebah. Akar tunggang tersebut hanya dimiliki oleh tanaman kopi yang berasal dari bibit semai atau bibit sambung (okulasi) yang batang bawahnya berasal dari bibit semai. Sementara tanaman kopi yang berasal dari bibit stek, cangkok, atau okulasi yang batang bawahnya berasal dari bibit stek tidak memiliki akar tunggang sehingga relatif mudah rebah (AAK, 2006).

Meskipun kopi merupakan tanaman tahunan, tetapi umumnya mempunyai perakaran yang dangkal. Oleh karena itu tanaman ini mudah mengalami kekeringan pada kemarau panjang bila di daerah perakarannya tidak diberi mulsa. Secara alami tanaman kopi memiliki akar tunggang sehingga tidak mudah rebah. Tetapi akar tunggang tersebut hanya dimiliki oleh tanaman kopi yang bibitnya berupa bibit semaian atau bibit sambungan okulasi yang batang bawahnya merupakan semaian.

Panjang akar tunggang dapat mencapai 45-50 cm, dan terdapat 4-8 akar samping yang tumbuh menurun kebawah sepanjang 2-3 m. selain itu banyak akar cabang samping yang panjang 1-2 m horizontal, sedalam kurang lebih 30 cm, dan bercabang merata (Rahardjo,2013).

2. Batang

Batang atau cabang tanaman kopi terdiri dari:
  • Cabang reproduksi adalah cabang yang tumbuh tegak lurus pada setiap ketiak daun bisa mencapai 4-5 tunas reproduksi. 
  • Cabang primer adalah cabang yang tumbuh pada batang utama atau cabang reproduksi dan berasal dari cabanag primer. Pada setiap ketiak daun hanya mempunyai satu tunas yaitu tunas primer. Berfungsi sebagai penghasil bungan karena disetiap ketiak daunnya terdapat mata tunas yang dapat tumbuh menjadi bunga.
  • Cabang sekunder adalah cabang yang tumbuh pada cabang primer dan berasal dari tunas sekunder. Cabang ini bersifat seperti cabang primer dapat menghasilkan bunga. 
  • Cabang kipas adalah cabang reproduksi yang tumbuh kuat pada cabang primer karena pohon sudah tua. Cabang reproduksi ini sifatnya sama seperti batang utama dan sering disebut sebagai cabang kipas.
  • Cabang pecut adalah cabang kipas yang tidak mampu membentuk cabang primer, mekipun tumbuhnya cuckup kuat.
  • Cabang balik adalah cabang reproduksi yang tumbuh pada acabang primer berkembang tidak normal dan mempunyai arah pertumbuhan menuju kedalam mahkota tajuk.
  • Cabang air adalah cabang reproduksi yang tumbuhnya pesat, ruas-ruas daunnya relatif panjang dan lunak atau banyak mengandung air (Budiman, 2014).
3. Daun

Kopi mempunyai bentuk daun bulat telur, ujungnya agak meruncing sampai bulat. Daun tersebut tumbuh pada batang, cabang dan ranting-ranting tersusun berdampingan. Pada batang atau cabang-cabang yang tumbuhnya tegak lurus, susunan pasangan daun itu bersleing-seling pada ruas berikutnya. Sedangkan daun yang tumbuh pada ranting atau cabang yang mendatar, pasangan daun itu terletak pada bidang yang sama, tidak berselang-seling (Manastas, 2014).

4. Bunga

Jumlah kuncup bunga pada setiap ketiak daun terbatas, sehingga setiap ketiak daun yang sudah menghasilkan bunga dengan jumlah tertentu tidak akan pernah menghasilkan bunga lagi. Namun demikian cabang primer dapat terus tumbuh memanjang membentuk daun baru, batang pun dapat terus menghasilkan cabang primer sehingga bunga bisa terus dihasilkan oleh tanaman (AAK, 2006).

5. Buah

Buah terdiri dari daging buah, dan biji. Daging buah terdiri atas tiga bagian, yaitu lapisan kulit luar (eksokarp), lapisan daging (mesokarp), dan lapisan kulit tanduk (endokarp) yang tipis tetapi keras. Buah kopi pada umumnya mengandung dua butir biji, tetapi kadang-kadang mengandung satu butir atau bahkan tidak berbiji (hampa) sama sekali. Biji ini terdiri dari kulit biji dan lembaga. Lembaga atau sering disebut endosperm merupakan bagian yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat minuman kopi (Budiman, 2014).

Syarat tumbuh tanaman kopi

Pertumbuhan dan produksi tanaman kopi bergantung dan dipengaruhi oleh iklim, angin, dan tanah. Kebutuhan lainnya yang tidak dapat diabaikan adalah mencari bibit unggul yang produksinya tinggi dan tahan terhadap hama juga penyakit. Setelah persyaratan tersebut dapat dipenuhi hal yang juga penting adalah pemeliharaan seperti pemupukan, pemangkasan, pohon peneduh, dan pemberantasan hama juga penyakit.

Iklim yang cocok untuk tanaman kopi Robusta adalah garis lintang 20 derajat LS-20 derajat LU, ketinggian tempat 300-1500 m dpl, curah hujan 1500-2500 mm/th, bulan kering (curah hujan <60 mm/bulan) 1-3 bulan, suhu udara rata-rata 21-24 derajat celcius (Asmacs, 2008).

Tanah meliputi sifat fisik dan sifat kimia. Sifat fisik tanah meliputi tekstur, struktur, air, dan udara di dalam tanah. Tanaman kopi menghendakin tanah lapisan atasnya dalam, gembur, subur, banyak mengandung humus dan permeable, atau dengan kata lain srtuktur tanah harus baik (AAK, 2006).

Sifat kimia tanah meliputi kesuburan dan pH. Tanaman kopi menghendaki tanah yang dalam, gembur dan banyak mengandung humus. Tanah yang subur bearti banyak mengandung zat-zat makanan yang sangat dubutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan berreproduksi. Tanaman kopi menghendaki reaksi yang agak asam, dengan pH 5 1/2-6 satu per dua. Tetapi hasil yang baiksering kali diperoleh pada tanah yang lebih asam, dengan catatan keadaan fisiknya baik (Manastas, 2014).



Tuesday, 30 August 2016

Penjelasan Lengkap Deskripsi Dan Klasifikasi Tanaman Ketepeng Cina

A. Deskripsi Tanaman Ketepeng Cina (Cassia alata L.)

Ketepeng Cina (Cassia alata L.) merupakan jenis perdu yang besar dan banyak tumbuh secara liar di tempat-tempat yang lembab. Kini tumbuhan ini sering dipelihara sebagai perindang halaman rumah atau gedung. Ketepeng cina atau sering juga disebut sebagai ketepeng kerbau mempunyai percabangan banyak, daunnya besar-besar berupa daun majemuk menyirip genap, berbau langu, anak daunnya kaku, bentuk jorong sampai bundar telur sungsang berpasangan 5-12 baris, panjang anak daun 3-15 cm , lebar 2,5-9 cm, ujung daun tumpul, pangkal daun miring, tepi daun rata, tangkai anak daun 2 cm. Bunga tersusun dalam tandan bertangkai panjang, tegak, letaknya diujung-ujung cabang. Mahkota bunga bearna kuning terang. Buah berupa polong yang gepeng, hitam, bersayap pada kedua sisinya dengan panjang 10-20 cm dan lebar 12-15 mm, yang pecah bila sudah masak dan berisi 50-70 biji (Suprapto, 2003). Ketepeng cina tumbuh subur pada dataran rendah sampai ketinggian 1400 m di atas permukaan laut (dpl) (Arisandi, 2006).

Ketepeng juga dikenal dengan nama cassia alata, suatu jenis yang termasuk suku johar-joharan. Tumbuhan ini biasa diperbanyak dengan biji, tetapi seperti tumbuhan johar-joharan lainnya, ketepeng juga dapat diperbanyak dengan stek. Untuk pertumbuhan selanjutnya ketepeng memerlukan pemupukan dan banyak air (Sastrapradja, 1980).

Sebagai tumbuhan obat seduhan daunnya dapat digunakan sebagai obat pencahar, tumbukan daun atau bunganya digunakan sebagai obat luar untuk macam-macam penyakit kulit seperti kudis, kurap dan panu (LIPI, 1980).

B. Klasifikasi Tumbuhan Ketepeng Cina (Cassia alata L.)

Secara taksonomi, tumbuhan ketepeng cina dapat diklasifikasikan menurut (Steenis, 2008) sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Resales
Famili : Leguminosae
Genus : Cassia
Spesies : (Cassia alata L.)

C. Nama Daerah Tumbuhan Ketepeng Cina (Cassia alata L.)

(Inggris) : Seven golden candlestick; (Jawa) : Ketepeng Kebo; (Indonesia) : Ketepeng cina; (Sunda) : Ketepeng badak; (Madura) : Acon-aconan; (Halmahera) : Sajamera; (Ternate) : Kupang-kupang; (Tidore) : Tabankun; (Sumatera) : Daun kupang, daun kurap, gelenggang, uru'kap; (Simalur) : Bulinggang balah (Thomas, 1992).



Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Arisandi, Y dan Yovita A. 2006. Khasiat tanaman obat. Jakarta: Pustaka Baru.

LIPI. 1980. Tumbuhan Obat. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Sastrapradja, S. 1980. Tumbuhan Obat Lembaga Biologi Nasional-LIPI. Jakarta: penerbit PN Balai Pustaka.

Steenis, V. 2008. Flora untuk sekolah di Indonesia. Jakarta: Penerbit PT. Pradnya Paramita.

Suprapto, W. 2003. Tumbuhan untuk pengobatan. Jakarta: Penerbit  PT. Grasindo.

Thomas, A.N.S. 1992. Tanaman obat tradisional 2. Yogyakarta. Kanisius.

Monday, 29 August 2016

Tinjauan Pustaka Klasifikasi Tumbuhan Pacar Air Dan Morfologinya

A. Sinonim dan Klasifikasi Tumbuhan Pacar Air (Impatiens balsamina Linn)

Klasifikasi dari tumbuhan pacar air (Impatiens balsamina Linn) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermathophyta (menhasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub-kelas : Rosidae
Ordo : Geraniales
Familia : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Spesies : Impatiens balsamina Linn (Wijayakusuma, 1999).

B. Nama lokal

Tumbuhan ini memiliki banyak nama. Adapun nama daerah di Indonesia: lahine, paru inai (sumatera), pacar banyu (Jawa), pacar cai (Sunda), kimhong (Jakarta), pacar toya, pacar aik (Nusa Tenggara), tilanggele duluku, kolendingi unggaagu (Sulawesi), bunga taho, inai anyer (maluku). Adapun nama asing : impatiens (Inggris), feng xian hua (Cina) (Wijayakusuma, 1999).

C. Morfologi

Pacar air (Impatiens balsamina Linn) merupakan tanaman semusim, berbatang basah, bulat berbuku, licin, tegak, tinggi 30-80 cm, bercabang, warnanya hijau kekuningan. Biasa ditanam di halaman sebagai tanaman hias atau tumbuh liar di tempat yang cukup mendapat air dan sinar matahari. Daun tunggal, bertangkai, bentuk lanset memanjang, panjang 6-15 cm. lebar 2-3 cm, tepi bergerigi tajam, ujung dan pangkal runcing, pertulangan menyirip, warna hijau muda. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, berkumpul 1-3, warnanya cerah (ada yang merah, orange, ungu, putih, dan sebagainya). Buahnya buah kendaga, berbentuk telur , elips, berambut, bewarna hijau, bila masak akan pecah menjadi 5 bagian yang terpilin. Bijinya bulat, kecil, hitam (Wijayakusuma, 1999).


Sumber pustaka/Daftar pustaka:

Wijayakusuma, H. dkk. 1999. Tanaman berkhasiat obat di Indonesa. Jakarta: Pustaka Kartini.

Tuesday, 14 June 2016

Klasifikasi dan Morfologi Padi Secara Umum

Padi

A. Pengertian Tanaman Padi

Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman dari bangsa rumput-rumputan yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok di dunia. Padi tergolong ke dalam genus Oryza yang termasuk dalam rumpun Oryzeae dalam familia Gramineae (rumput-rumputan), dimana sekitar 20 spesies tersebar di dunia terutama di daerah tropis basah Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara, Cina Selatan, Amerika Selatan dan Tengah, dan Australia. Padi yang dibudidayakan saat ini termasuk dalam genus Oryza dengan spesies utama yaitu Oryza sative L. spesies lain yaitu Oryza glaberima yang tumbuh secara preodik di beberapa wilayah negara-negara Afrika Barat, secara bertahap mulai tergantikan oleh Oryza sativa (De Datta, 1981). Berikut adalah klasifikasi lengkap tanaman padi secara umum.

B. Klasifikasi Tanaman Padi Secara Umum

Menurut Tjitrosoepomo (2005) tanaman padi dalam sistemetika tumbuh dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

B.1. Klasifikasi padi:


  • Kingdom : Plantae (tumbuhan)
  • Sub Kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
  • Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
  • Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
  • Kelas : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
  • Sub Kelas : Commelidinidae
  • Ordo : Poales
  • Famili : Poaceae/Gramineae (suku rumput-rumputan)
  • Genus : Oryza
  • Spesies : Oryza sativa L.

C. Morfologi Padi Secara Umum

Morfologi tanaman padi menyangkut bentuk dan struktur organisme tersebut yang merupakan dasar utama dalam klasifikasi tanaman dan digunakan sebagai alat untuk mengenal adaptasi tanaman terhadap lingkungannya (Manurung dan Ismunadji, 1988).

Morfologi tanaman padi merupakan susunan tubuh tanaman yang dibagi menjadi dua bagian yaitu vegetatif yang terdiri dari akar, batang, dan daun. Sedangkan bagian generatif yang terdiri dari malai, bunga, dan buah.

C.1. Morfologi bagian vegetatif tanaman padi

c.1.1. Akar

Akar tanaman padi termasuk golongan akar serabut. Akar padi berfungsi untuk menyerap zat makanan dan air, proses respirasi dan menopang tegaknya batang. Akar padi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu akar primer dan akar adventif. Akar primer yaitu akar yang tumbuh dari kecambah biji, sedangkan akar adventif berupa akar yang tumbuh di dekat buku-buku. Kedua akar ini tidak banyak mengalami perubahan setelah tumbuh karena akar padi tidak mengalami pertumbuhan sekunder (Supriadiputra dan Setiawan, 2000).

c.1.2. Batang

Batang padi terutama berfungsi untuk menopang tanaman secara keseluruhan dan mendistribusikan zat makanan ke seluruh bagian tanaman (Simanjuntak, 2005). Menurut Herawati (2012), padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun dari ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu, bubungnya ditutupi oleh buku. Panjang ruas tidak sama, ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua , ruas yang ketiga dan seterusnya lebih panjang dari pada ruas yang didahuluinya. Ditambahkan Supriadiputra dan Setawan (2000), ruas-ruas ini pada masa awal pertumbuhan bentuknya pendek dan bertumpuk. Setelah masa reproduktif, ruas-ruas tumbuh memanjang dan berongga. Pertunasan (tumbuhnya tunas) dimulai pada buku paling bawah, berupa tumbuhnya tunas sekunder. Kemudian dari tunas sekunder ini tumbuh tunas lainnya sehingga terbentuk tunas yang banyak.

c.1.3. Daun

Daun padi memiliki crikhas, yaitu adanya lidah daun dan telinga daun. Hal ini menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari jenis rumput yang lain. Bagian-bagian daun padi, adalah:
  • helaian daun : terletak pada batang padi dan selalu ada, bentuknya memanjang seperti pita, panjang dan lebar helaian daun tergantung varietas padi yang bersangkutan.
  • pelepah daun (upih) : merupakan bagian daun yang menyelubungi batang, pelepah daun ini berfungsi memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak, dan hal ini selalu terjadi.
  • lidah daun : lidah daun terletak pada perbatasan antara helai daun dan upih. Panjang lidah daun berbeda-beda, tergantung pada varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang. Fungsi lidah daun adalah mencegah masuknya air hujan di antara batang dan pelepah daun. Disamping itu, lidah daun juga mencegah infeksi penyakit, sebab media air memudahkan penyebaran penyakit (Herawati, 2012).

C.2. Bagian generatif

c.2.1. Malai

Menurut Herawati (2012), malai adalah sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas. Ruas buku terakhir dari batang merupakan sumbu utama dari malai, sedangkan bulir-bulir terletak pada cabang pertama dan cabang kedua. Panjang malai dapat dibedakan menjadi 3 ukuran, yaitu malai pendek (kurang dari 20 cm), malai sedang (antara 20-30 cm) dan malai panjang (lebih dari 30 cm). Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 7-30 buah cabang. AAK (1992), menambahkan bahwa panjang malai, banyaknya cabang-cabang tiap malai dan bulir padi tiap cabang, tergantung pada varietas padi yang ditanam dan cara bercocok tanam.

c.2.2. Bunga

Bunga padi tergolong dari jenis bunga berkelamin dua. Setiap bunga mempunyai enam benang sari yang bertangkai pendek dengan dua tangkai putik dan dua buah kepala putik. Penyerbukan dan pembuahan dimulai dengan penempelan serbuk sari pada kepala putik. Proses tersebut akan menghasilkan buah padi (gabah) (Supriadiputra dan Setiawan, 2000).

c.2.3. Biji/buah padi

Menurut Herawati (2012), buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau butir/gabah, sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini merupakan hasil penyerbukan dan pembuahan yang mempunyai bagian-bagian sebagai berikut: embrio (lembaga), endosperm dan bekatul. Proses penyerbukan biasanya berlangsung antara jam 09.00-11.00 pagi. Pemasakan buah memerlukan waktu sekitar 30 hari untuk daerah tropis dan mencapai 65 hari untuk daerah sub tropis.


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Aksi Agraris Kanisius. 1992. Budidaya tanaman padi. Kanisius, Yogyakarta.

De Datta, S.K. 1981. Principles and practice of rice production. A Wiley-Interscience Publication. John Wiley & Sons. New York.

Herawati, W.D. 2012. Budidaya padi. Javalitera, Jogjakarta.

Manurung, S.O. dan M. Ismunadji. 1988. Morfologi dan fisiologi padi dalam M. Ismunadji, S. Partohardjono, M. Syam, dan A. Widjono (ed). Padi buku 1. Balai penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Bogor. Hal 55-102.

Simanjuntak, L. 2005. Usaha tani PATI (Padi, Azolla, Tiktok, dan Ikan). Agro Media Pustaka, Jakarta.

Supriadiputra, S. dan A.I, Setiawan. 2000. Mina padi: Budidaya ikan bersama padi. Penebar Swadaya, Jakarta.






Total Pageviews

Kategori