Showing posts with label Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. Show all posts

Saturday, 28 March 2020

Klasifikasi dan Morfologi Laba-Laba

Klasifikasi dan Morfologi Laba-Laba

Laba-laba merupakan jenis hewan yang berbuku-buku. Pada tubuh laba-laba memiliki dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tidak bersayap, tidak memiliki mulut mengunyah, serta memiliki jaring perekat.

Hewan berkaki delapan ini dapat hidup dan ditemukan diseluruh dunia kecuali di Antartika. Laba-laba juga dapat hidup disemua hibitat perkecualian kolonisasi di udara dan laut.

Laba-laba memangsa serangga dan hewan-hewan kecil lainnya atau disebut juga jenis karnivora. Laba-laba juga terkadang bersifat kanibal jika tidak menemukan mangsa lainnya. Mangsa uatama laba-laba adalah serangga. Laba-laba memiliki bisa yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsanya. Bisa tersebut disuntikan kedalam tubuh mangsanya dengan ke dua taringgya. Ada 200 spesies laba-laba yang bisanya dapat membahayakan manusia.

Laba-laba memiliki benang sutra yang tipis terbuat dari helaian serat protein yang tipis dan sangat kuat. Jaring laba-laba berfungsi untuk membuat jaring sebagai perangkap mangsa, memudahkan berpindah daritempat ketempat lainnya, membuat kantung telur, dan melindungi lubang sarang.

Klasifikasi Laba-Laba

KINGDOM : Animalia
FILUM : Arthropoda
KELAS : Arachnida
ORDO : Araneae
FAMILI : Araneidae
GENUS : Araneus
SPESIES : Araneus diadematus

Morfologi Laba-Laba

Laba-laba memiliki dua bagian tubuh yaitu: bagian depan yang disebut cephalothorax atau prosoma merupakan gabungan dari kepala dan dada (torax). Sedangkan segmen bagian belakang disebut abdomen (perut) atau opsithosoma. Selain itu juga terdapat bagian tubuh pedicle atau pedicellus sebagai penghubung antara cephalothorax dan abdomen.

Pada bagian tubuh cephalothorax terdapat empat pasang kaki dan satu sampai empat pasang mata. Selain itu juga terdapat sepasang taring besar dan alat bantu pada bagian mulut mirip tangan yang disebut pedipalpus.

Laba-laba memakan mangsanya dengan cara menghisap cairan dalam tubuh dengan dibantu berupa alat penghisap karena laba-laba tidak memiliki gigi dan mulut.

Wednesday, 7 August 2019

Hama Utama Tanaman Semangka dan Cara Pengendaliannya

Hama Utama Tanaman Semangka dan Cara Pengendaliannya 

Budidaya tanaman semangka tentu takluput dari serangan organisme pengganggu tanaman atau hama. Keberadaan hama-hama di suatu areal budidaya tanaman semangka tentu menimbulkan dampak buruk bagi petani. Hama yang menyerang tanaman semangka dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman, sehingga petani menjadi rugi akibat penurunan atau bahkan kegagalan panen.


Oleh sebab itu, petani harus mengetahui hama apa saja yang berpotensi menyerang tanaman semangka dan cara pengendaliannya yang tepat. Berikut ini adalah penjelasan mengenai hama yang menyerang tanaman semangka serta cara mengendalikannya.

Hama tanaman semangka 

Gangsir (Brachytripes portentosus Licht)

Hama ini sangat ditakuti oleh petani semangka karena sifatnya membunuh tanaman muda. Gangsir menyerang batang tanaman yang masih muda terutama tanaman yang baru saja ditanam di lahan dari persemaian. Hama gangsir lebih aktif menyerang pada malam hari, dengan cara memotong batang bibit semangka namun tidak memakannya. Hama ini dapat mudah diketahui keberadaannya, dengan melihat tanda adanya onggokan tanah pada muka liang karena hama ini bersembunyi di dalam tanah dengan membuat liang dalam tanah.

Pengendalian hama gangsir

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara melakukan sanitasi lingkungan sekitar kebun dan melindungi tanaman dengan menutupnya menggunakan gelas plastik yang sudah dilubangi bagian sisi-sisinya.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan insektisida kimia sintetik berbahan deltamethrin 25 g/ l (sesuai anjuran).

Thrips (Thrips parvispinus Karny)

Hama jenis ini memiliki ciri-ciri tubuh berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas.

Hama ini sebagai pembawa virus. Hama thrips mengembara di malam hari, kemudian menetap dan berkembang biak pada tanaman semangka. Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini yaitu pada bagian daun muda atau tunas baru nampak keriting dan kerdil (kemungkinan tanaman terkena virus) serta dalam pembentukan buah menjadi tidak normal.

Cara pengendalianya:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara melakukan rotasi/pergiliran tanaman yang bukan dari bangsa Cucurbitaceae (timun, dan melon), sanitasi kebun, penggunaan musuh alami dan pengaturan waktu tanam yang serentak.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif karbosulfan, formrtanat hidroklorida, piraklorofos dan imidakloprid sampai tanaman basah dan merata.

Ulat perusak daun (Spodoptera litura)

Hama ini memiliki ciri-ciri tubuh berwarna hijau dengan garis hitam atau hijau bergaris kuning. Hama spesies Spodoptera liburan ini menyerang bagian daun tanaman dan bahkan sampai melubangi/dapat juga merusak buah.

Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini yaitu daun tanaman nampak berlubang.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara melakukan rotasi/pergiliran tanaman dan menggunakan musuh alami.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, klorfluazoron betasiflutrin, profenofos, bacillus turingiensis, lamda sihalotrin dengan dosis anjuran.

Tungau

Tungau merah: Tetranychus cinnabarinus Boisduval atau tunga kuning: Polyphagotarsonemus latus Bank.
Hama ini memiliki ciri tubuh yang sangat kecil, tubuhnya berwarna merah agak kekuningan/kehijauan. Hama tungau menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman. Keberadaan hama ini dapat dilihat adanya jaring-jaring sarang yang terletak di bawah permukaan daun. Gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama ini yaitu warna daun akan tampak pucat. Hama ini juga sebagai pembawa virus.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara memungutnya langsung dari daun yang terserang kemudian dimusnahkan serta menjaga kebersihan kebun.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan akarisida.

Henosepilachna spp

Hama ini menyerang tanaman dalam bentuk larva dan imago serta hidup di permukaan daun. Larva dan imago menyerang tanaman dengan cara memakan daun dan menyisakan tulang daunnya saja, sehingga daun tampak berlubang.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, pemangkasan daun yang terserang kemudian langsung dibakar, pemasangan perangkap yellow sticky trap, dan penggunaan musuh alami.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penggunaan insektisida berbahan aktif abamektin ,bensultap, bacillus coagulans, siromazin, piretroid dan organofosfat.

Lalat buah (Dacus spp)

Hama ini menyerang tanaman semangka dalam bentuk larva. Larva akan tinggal di dalam buah semangka dan memakan jaringan daging buah. Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini akan menyebabkan buah semangka busuk.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara eradikasi buah yang terserang, menggunakan musuh alami, pemasangan perangkap beracun yang mengandung metil eugenol.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan insektisida sintetis berbahan aktif betasiflutrin, profenofos, deltametrin, metitation dan protiofos.

Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)

Hama ini aktif menyerang pada malam hari dan memiliki cici-ciri panjang tubuh sekitar 2-5 cm, berwarna hitam bernintik-bintik/bergaris-garis. Larva kecil akan memakan daun, terutama tunas yang masih muda, larva dewasa dapat memakan pangkal tanaman.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan dengan tujuan memutuskan siklus hidup ulat tanah, dan pemberantasan sarang-sarang ngengat di sekitar area pertanaman.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penggunaan insektisida sintetis sesuai dengan aturan dosis tanaman semangka.

Kutu aphids (Aphids gossypii Glover)

Hama ini memiliki ciri-ciri, aphids muda berwarna kuning, sedangkan yang dewasa mempunyai sayap berwarna agak kehitaman. Hama ini juga sebagai pembawa virus. Hama ini menyerang tanaman semangka dengan cara menghisap cairan dalam tanaman.

Gejala yang ditimbulkan oleh serangan hama aphids yaitu menggulungnya daun tanaman dan bagian pucuk tanaman menjadi keriting. Hama ini juga dapat mengeluarkan semacam cairan yang berasa manis sehingga dapat mengundang banyak semut.

Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan menggunakan insektisida sesuai anjuran secara rutin. Tanaman yang terserang virus, segera dicabut dan dibakar.

Kutu Daun

Hama ini menyerang tanaman semangka dengan cara menghisap cairan tanaman pada daun yang masih muda. Spesies kutu daun menghasilkan kotoran yang memiliki rasa manis, sehingga dapat mengundang banyak semut. Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini adalah daun tanaman akan mengalami klorosis/memudarnya warna hijau daun, daun menggulung, mengeriting yang membuat tanaman menjadi kerdil.

Hama kutu daun dapat dikendalikan dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, atau lamdasihalotrin.

Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Hama ini memiliki ciri-ciri tubuh berwarna putih, bersayap dan seluruh tubuhnya diselimuti serbuk putih. Kutu kebul menyerang tanaman semangka dengan cara menghisap cairan daun semangka, sehingga menyebabkan kerusakan pada jaringan maupun sel-selnya.

Pengendalian

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara pembersihan lingkungan kebun, mengatur jarak tanam, pergiliran tanaman, pemasangan perangkap kuning, eradiksi bagian tanaman yang terserang, dan penggunaan musuh alami.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida sintetis berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, karbosulfan, prothiofos, diafentiuron, tiametoksam.

Hama Tanaman Seledri dan Cara Pengendaliannya

Hama Tanaman Seledri dan Cara Pengendaliannya

Seledri merupakan salah satu tanaman yang sering dimanfaatkan sebagai bahan penyedap rasa oleh masyarakat Indonesia. Seledri memiliki harga jual yang cukup tinggi. Sehingga petani banyak yang membudidayakannya. Dalam membudidayakan tanaman seledri, petani sering mengeluhkan bahwa tanaman yang dibudidayakan terserang hama yang membuat harga jual menurun. Akibatnya tidak sedikit petani yang mengalami kerugian.


Oleh karena itu, artikel ini akan menyampaikan informasi tentang hama apa saja yang berpotensi menyerang tanaman seledri.

Nematode

Hama ini habitatnya berada di dalam tanah dan sering menyerang akar tanaman seledri. Akibat serangan tersebut, akar seledri mengalami perubahan seperti adanya bintil besar maupun kecil. Sehingga kegunaan akar tanaman menjadi terhambat/kurang maksimal dalam penyerapan air dan unsur-unsur lain yang dibutuhkan oleh tanaman.

Jika akar tanaman seledri yang masih muda diserang oleh hama mematikan, maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terhambat,sehingga tanaman menjadi kerdil.

Cara Pengendalian:

Hama ini dapat dikendalikan dengan cara penyemprotan insektisida sintetis seperti curacron dan dosisnya sekitir 1,3 cc/liter air.

Kutu Daun

Di dalam budidaya tanaman seledri hama kutu daun lebih menyerang bagian daun yang masih muda. Gejala yang ditimbulkan hama ini, daun menjadi kuning dan bahkan sampai kering. Jika tanaman seledri diserang oleh kutu daun, maka yang terjadi adalah pertumbuhan tanaman menjadi terhambat atau menjadi mati.

Cara Pengendalian:

Hama kutu daun dapat dikendalikan dengan cara penyemprotan menggunakan insektisida Basudin 60 EC dengan dosis 2 cc/liter air.

Ulat grayak

Hama ulat grayak aktif menyerang pada malam hari dengan jumlah koloni yang besar. Hama ini menyerang dengan cara memakan daun baik yang masih muda ataupun tua.

Pengendalian

Hama ulat grayak dapat dikendalikan dengan cara sebagai berikut:

Cara kultur teknis: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara teknis yaitu dengan membuang bagian daun yang terserang.
Cara fisik atau mekanik: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu menangkap hama dengan menggunakan tangan atau alat pendukung lainnya dan penggunaan perangkap yang diberi methyl eugenol.

Musuh alami: pengendalian ini dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami serangga patogen antara lain kelompok patogen (nuclear-polyhedrosis virus), Metharhizium anisopliae), parasitoid (telur: Telenomus spodopterae, larva: Apantelesspp., pupa: Brachimeria spp.), dan predator larva (Paederus fuscipes, Lycosa pseudoannulata, Selonopsis gemminata)
Cara kimia: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida sintetis dengan bahan berupa pirethroid sintesis, misalnya Decis 2,5 EC dengan konsentrasi 0,5-,75 ml/l.

Hama Wereng

Hama wereng (Liriomyz), keberadaannya pada areal pertanaman seledri sangat berbahaya. Pasalnya hama ini menyerang tanaman seledri dengan menghisap cairan dan kandungan pigmen pada daun seledri, sehingga daun tampak kering.

Cara Pengendalian:

Hama ini dapat dikendalikan dengan penyemprotan menggunakan insektisida sintetis berupa trigard, curacron dan yang terbaru Winder 25 WP. Dosis sesuai petunjuk kemasan.

Tungau Tetranychus sp. (Acarina: Tetranychidae) 

Tungau memiliki ciri-ciri fisik berukuran sangat kecil kurang dari 1 mm, memiliki warna tubuh yang bermacam-macam seperti kuning, coklat, kehijauan, atau merah tergantung dari jenis tungau, jenis makanan, atau stadia perkembangan. Tungau dapat menyebar dengan bantuan angin, manusia, binatang, alat-alat pertanian, benih  dan lain-lain.

Gejala serangan hama tungau dapat menimbulkan bercak keperakan pada daun dan juga bintik kuning sampai coklat kemerahan pada permukaan daun. Jika serangan hama dalam intensitas berat, dapat menyebabkan daun seledri rontok. Saat musim kemarau, dapat menimbulkan serangan berat hama tungau.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara memungutnya langsung dari daun yang terserang kemudian dimusnahkan serta menjaga kebersihan kebun.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan akarisida.


Thursday, 27 April 2017

Klasifikasi Dan Morfologi Kutu Kebul

Klasifikasi Dan Morfologi Kutu Kebul

Kingdom : Metazoa                                                                      
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Uniramia
Class : Insecta
Order : Hemiptera
Suborder : Sternorrhyncha
Superfamily : Aleyrodoidea
Family : Aleyrodidae
Genus : Bemisia
Species : Bemisia tabaci

Morfologi Kutu Kebul

Telur

Bentuk telur lonjong sedikit melengkung seperti pisang, berwarna kuning terang, panjang antara 0,2-0,3 mm. Jumlah telur kutu kebul pada daun yang terinveksi virus sebanyak 77 butir, sedangkan jumlah telur yang diletakan pada daun sehat hanya 14 butir. Lama stadium telur rata-rata 5,8 hari.

Nimfa 

Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar pertama berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk bergerak. Nimfa instar ke-2 dan ke-3 tidak bertungkai, dan akan melekat pada daun selama masa pertumbuhannya. Stadium nimfa rata-rata 9,2 hari.

Imago

Imago merupakan serangga yang telah dewasa tubuhnya berukuran kecil antara 1-1,5 mm, berwarna putih, dan sayapnya transparan ditutupi lapisan lilin yang bertepung. 

Pengertian Pengendalian Gulma

Pengendalian Gulma


Pengendalian gulma merupakan suatu proses membatasi pertumbuhan dan perkembang biakan gulma sedemikian rupa agar tanaman budidaya mampu menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi, sehingga petani akan mendapatkan keuntungan yang lebih optimal. Pengendalian gulma bukan berarti membasmi populasi gulma sampai habis melainkan hanya sebatas menekan populasi gulma sampai ketingkat populasi yang tidak merugikan secara ekonomi atau tidak melalui ambang ekonomi. Ada berbagai cara pengendalian gulma yang bisa dilkukan. Pada dasarnya ada enam teknik pengendalian gulma, yaitu : mekanis, kultur teknis, fisik, biologis, kimia dan terpadu. Dewasa ini pengendalian gulma dengan cara kimia sangat diminati karena mudah untuk mengaplikasikannya, harga relatif murah, serta dapat menekan gulma dalam waktu yang lebih singkat.

Pengendalian Gulma secara mekanis/fisik

Pada umumnya petani dalam pengendalian gulma secara mekanis yaitu dengan pengolahan tanah konvensional dan peyiangan dengan tangan. Pengolahan tanah konvensional dilakukan dengan cara membajak, menyisir dan meratakan tanah, dengan tenaga bantu seperti tenaga ternak (sapi/kerbau) dan mesin (hand trackor). Penyiangan dengan tangan dilakukan dengan cara mencabut gulma baik sebagian maupun seluruh bagian tumbuhan dengan menggunakan tangan. Namun metode pengendalian dengan cara penyiangan jarang dilakukan oleh petani, karena membutuhkan waktu lama dalam menekan populasi.

Pengendalian Gulma Secara Kultur Teknis

Pengendalian gulma secara kultur teknis merupakan cara pengendalian gulma dengan memperhatikan dan merubah keadaan ekologis atau lingkugan tanaman budidaya dengan gulma. Penggunaan metode ini dilakukan dengan cara menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman budidaya sehingga mampu bersaing dengan gulma, tejuan metode ini yaitu menekan pertumbuhan gulma sampai taraf rendah sehingga tidak menjadi tumbuhan pesaing bagi tanaman budidaya, dan produktifitas tanaman budidaya tetap optimal.

Terdapat beberapa metode pengendalian secara kultur teknis dengan praktek-praktek budidaya, antara lain :

1. Tanaman yang ditanam cocok dengan kondisi tanah.
2. Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera menutup ruang kosong.
3. Pemupukan yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan tanaman budidaya sehingga mempertinggi daya saing tanaman terhadap gulma.
4. Pengaturan jarak waktu tanam dengan membiarkan gulma tumbuh terlebih dahulu kemudian dikendalikan dengan praktek budidaya tertentu.
5. Menggunakan tanaman pesaing (competitive crop) yang pertumbuhannya cepat dan berkanopi lebar sehingga memberi naungan dengan cepat pada area di bawahnya.
6. Memodifikasi lingkungan yang melibatkan pertumbuhan tanaman menjadi baik dan pertumbuhan gulma tertekan.

Di bawah ini beberapa tindakan pengendalian secara kultur teknis, sebagai berikut :

1. Pengelolaan tanah
2. Pengaturan dan pola jarak tanam
3. Pergiliran tanaman (crop rotation)
4. Penyiangan weeding
5. Penggunaan tanaman penutup tanah (Legum Cover Crop-LCC)
6. Penggenangan
7. Penggunaan mulsa

Pengendalian Gulma Secara Biologis

Pengendalian gulma secara biologis merupakan teknik pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain seperti insekta, jamur, bakteri, dan sebagainya sehingga dapat menekan pertumbuhan dan perkembang biakan gulma.

Pengendalian Gulma Secara Kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi merupakan teknik pengendalian dengan menggunakan bahan kimia dalam bentuk herbisida. Herbisida merupakan senyawa kimia yang dapat menekan pertumbuhan dan populasi gulma baik secara selektif maupun non selektif. Ada beberapa macam herbisida antara lain herbisida kontak dan sistemmik. Penggunaan herbisida kimia memiliki beberapa keuntungan yaitu cepat dan efektif, terutama untuk areal pertanaman yang luas. Ada pun kelemahannya yaitu bersifat racun dan mencemari lingkungan.

Pengendalian Gulma Secara Terpadu

Pengendalian gulma secara terpadu yaitu dengan cara menggunakan berbagai macam cara pengendalian yang dilakukan secara bersamaan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Monday, 28 November 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Jamur Kuping (Auricularia auricula)

Klasifikasi Dan Morfologi Jamur Kuping

Gambaran Umum Jamur Kuping

Jamur kuping (Auricularia auricula) merupakan salah satu kelompok jelly fungi yang masuk ke dalam kelas Basidiomycota dan mempunyai tekstur jelly yang unik (Volk, 2009). Fungi yang masuk ke dalam kelas ini umumnya makroskopis atau mudah dilihat dengan mata telanjang. Miseliumnya bersekat dan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: miselium primer (miselium yang sel-selnya berinti satu, umumnya berasal dari perkembangan basidiospora) dan miselium sekunder (miselium yang sel penyusunnya berinti dua, miselium ini merupakan hasil konjugasi dua miselium primer atau persatuan dua basidiospora). Jamur ini disebut jamur kuping karena bentuk tubuh buahnya melebar seperti daun telinga manusia (kuping).

Klasifikasi Jamur Kuping

Kingdom : Fungi
Filum : Basidiomycota
Kelas : Phragmobasidiomycetes
Ordo : Auriculariales
Family : Auriculaceae
Genus : Auricularia
Spesies : Auricularia auricula

Morfologi Jamur Kuping

Karakteristik jamur kuping ini adalah memiliki tubuh buah yang kenyal (mirip gelatin) jika dalam keadaan segar. Namun, pada keadaan kering, tubuh buah dari jamur kuping ini akan menjadi keras seperti tulang. Bagian tubuh buah dari jamur kuping berbentuk seperti mangkuk atau kadang dengan cuping seperti kuping, memiliki diameter 2-15 cm, tipis berdaging, dan kenyal. Warna tubuh buah jamur ini pada umumnya hitam atau coklat kehitaman akan tetapi adapula yang memiliki warna coklat tua. Jenis jamur kuping yang paling memiliki nilai bisnis yang tinggi adalah yang memiliki warna coklat pada bagian atas tubuh buah dan warna hitam pada bagian bawah tubuh buah, serta ukuran tubuh buah kecil. Jamur kuping merupakan salah satu jamur konsumsi yang umum dikeringkan terlebih dahulu, kemudian direndam dengan air dalam waktu relatif singkat sehingga jamur ini akan kembali seperti bentuk dan ukuran segarnya (Gunawan, 2000)

Cara Reproduksi Jamur Kuping

Cara reproduksi vegetatif dari jamur kuping adalah dengan membentuk tunas, dengan konidia, dan fragmentasi miselium. Sedangkan, reproduksi generatif jamur kuping adalah dengan menggunakan alat yang disebut basidium, basidium berkumpul dalam badan yang disebut basidiokarp, yang selanjutnya menghasilkan spora yang disebut basidiospora (Hastiono, 2004).

Siklus Hidup Jamur Kuping

Siklus hidup pada jamur kuping hampir serupa dengan siklus hidup pada jamur tiram dan shiitake yaitu tubuh buah yang sudah tua akan menghasilkan spora yang berbentuk kecil, ringan, dan jumlahnya banyak. Apabila spora tersebut jatuh pada kondisi dan tempat yang sesuai dengan persyaratan hidupnya (misalnya di kayu mati atau bahan yang mengandung selulosa dan dalam kondisi yang lembab) maka spora tersebut akan berkecambah dan membentuk miselium melalui beberapa fase. Pada fase pertama, miselium primer yang tumbuh akan terus menjadi banyak dan meluas. Selanjutnya akan berkembang menjadi miselium sekunder yang membentuk primordial (penebalan miselium pada bagian permukaan miselium sekunder dengan diameter sekitar 0.1 cm). Dari primordial akan tumbuh dan terbentuk kuncup tubuh buah (pada tingkat awal) yang semakin lama akan semakin membesar (kurang lebih 3-5 hari). Kemudian, dari primordial akan tumbuh tubuh buah jamur yang bentuknya lebar, yang pada saat tua dapat dipanen.

Sunday, 27 November 2016

Klasifikasi Dan Morfologi Synedrella nodiflora L

Klasifikasi Dan Morfologi Synedrella nodiflora L/Legetan

Synedrella nodiflora L. merupakan tumbuhan berbunga yang masuk dalam anggota Asteraceae. S. nodiflora tumbuh dengan baik pada lingkungan yang berbeda dan umumnya ditemukan di Bangladesh, India, Malaysia, Jepang, Spanyol, Cina dan Inggris. Seluruh bagian tumbuhan mengandung senyawa diuretik dan pelancar. Aktifitas anti-inflamasi, insektisida dan analgesik dari tumbuhan ini juga telah diteliti (Chowdhury et al., 2013). Synedrella nodiflora L. (Verbesina nodiflora L.) juga ditemukan di Afrika tropis, Asia dan India Barat (Moniruzzaman et al., 2012).

Klasifikasi Synedrella nodiflora

Klasifikasi Synedrella nodiflora (L.)
Kingdom Plantae
Subkingdom Tracheobionta
Superdivisi Spermatophyta
Divisi  Magnoliophyta
Klas Magnoliopsida
Subklas  Asteridae
Ordo Asterales
Famili Asteraceae
Genus Synedrella
Spesies Synedrella nodiflora (L.)

Morfologi Synedrella nodiflora

Synedrella nodiflora memiliki nama lokal yaitu: Legetan, Gletang Warak (Jawa), Jotang kuda (Sunda). Sedangkan nama lokal (Inggris): gulma sinderella (Plantamor, 2011). Sinonim dari Synedrella nodiflora: Verbesina nodiflora.

Perkecambahan biji S. nodiflora adalah epigeal. Panjang hipokotil 8-19 mm, sering keungu-unguan, dan sedikit berambut. Kotiledon berbentuk bulat panjang, dengan panjang 6-8 mm, sering kemerah-merahan atau keungu-unguan dan berbatang pendek. Sepasang daun muda mirip dengan daun dewasa tetapi lebih kecil. S. nodiflora tumbuh di semua habitat tropis dan subtropis dengan kelembaban tanah yang cukup untuk kecepatannya dalam perkecambahan, pertumbuhan, pembungaan dan pembentukan biji. Tumbuh dengan subur pada area dengan kelembaban tanah dan udara yang tinggi (tetapi bukan pada titik jenuh kelembaban tanah) (Benoit et a, 2014).

S. nodiflora bercabang tegak, herbal dengan tinggi 30-80 cm. Sistem perakaran serabut, biasanya dengan cabang yang kuat. Tumbuh tegak, batang biasanya berkayu, percabangan dikotom dari dasar tumbuhan, cenderung memiliki internodus yang panjang dan bengkak, membulat atau sedikit kaku, lembut, seringkali berambut, dan biasanya dengan tinggi sekitar 50 cm. Bagian batang yang lebih bawah mungkin tumbuh akar pada bagian nodusnya, khususnya di daerah yang basah atau lembab (CABI, 2015).

Daun tumbuh berhadapan dengan panjang 4-9 cm, berbentuk elips sampai bulat dengan tiga tulang daun yang tampak jelas dan dengan tepi beringgit, berambut dengan tangkai daun yang pendek dan menempel pada batang secara selang-seling. Bunga tumbuh dengan rangkaian mahkota yang kecil dari 2-8 bunga majemuk pada nodus dan seluruh ujung yang lebih tinggi ketiga dari tumbuhan, tiap bunga majemuk terdiri dari beberapa daun bunga yang tegak dengan panjang 3-5 mm dan keliling 5-6 mm, setiap panjang 3-4 mm dengan daun bungan berwarna kuning (CABI, 2015).

Friday, 25 November 2016

Pengertian Kutu Kebul (Bemisia tabaci Gennadius)

Pengertian Kutu Kebul (Bemisia tabaci Gennadius)

Kutu kebul adalah hewan dari kelompok serangga (insekta) yang termasuk ke dalam famili Aleyrodidae termasuk dalam superfamili Aleyrodidae, subordo Sternorryccha, ordo Homoptera. Famili  Aleyrodidae terdiri dari dua subfamili yaitu Aleurodicinae dan Aleyrodinae (Martin 1987).


Siklus hidup kutu kebul terdiri dari fase telur, nimfa, pupa dan imago. Serangga ini dapat dibedakan dengan mudah dari serangga lainnya yaitu dengan adanya lilin yang pada umumnya bewarna putih di ujung atau duri pada dorsal dan terdapat beberapa jenis yang memiliki banyak lilin. Karena memiliki kandungan lilin pada tubuh kutu kebul, serangga ini dinamakan whiteflies. Kutu kebul betina meletakkan telurnya dengan pedicelnya. Nimfa yang memiliki tungkai hanya pada fase instar satu yang disebut crawler, setelah ganti kulit, mereka akan menetap dan tungkai tereduksi (Kalshoven 1981).

B. tabaci Gennadius merupakan salah satu spesies dari kutu kebul yang pada umumnya sering ditemukan dan memiliki kisaran inang yang luas. B. tabaci betina diketahui sering menularkan virus daripada yang jantan

(Nateshan et al, 1996). Bentuk telur serangga ini oval, bewarna putih, berukuran 0,2 mm, dengan tungkai pendek untuk menempel pada daun. Telur yang sudah matang ditandai dengan perubahan warna menjadi kuning. Nimfa B. tabaci berwarna transparan, pada fase pupa bewarna kemerah-merahan dan terdapat celah caudal, ketika dewasa serangga ini berwarna coklat terang hingga kuning dengan sayap tipis (McPartland et al, 2000).

Migrasi B. tabaci dibantu oleh angin hingga lebih dari 5 km di lapangan (Byrne, 1996). Byrne juga berpendapat walaupun migrasi B. tabaci dibantu dengan angin, bukan berarti serangga ini lemah terhadap angin. Pada penelitian yang dilakukannya dapat dijelaskan bahwa B. tabaci mampu melawan arah angin pada flight chamber.

Klasifikasi dan Morfologi Kupu-Kupu/Ngengat

Klasifikasi dan Morfologi Kupu-Kupu/Ngengat

Kupu-kupu sejenis dengan ngengat (rama-rama) merupakan serangga yang masuk ke dalam golongan ordo Lepidoptera. Lepidoptera berasal dari kata "lepis" yang berarti sisik dan "pteron" yang berarti sayap. Dilihat dari bentuk tubuh dan aktivitasnya, Lepidoptera dikelompokan menjadi dua subordo yaitu Rhopalocera dan Heterocera. Kelompok dari subordo Rhopalocera lebih dikenal dengan istilah "butterfly" (kupu-kupu siang), karena sebagian besar aktifitasnya pada siang hari, sedangkan dari kelompok subordo Heterocera dikenal dengan sebutan "moth" (ngengat/kupu-kupu malam), karena sebagian besarnya aktifitasnya pada malam hari (Salmah dkk, 2002).

Klasifikasi Kupu-kupu dan Ngengat

Klasifikasi Kupu-kupu
Kerajaan Animalia
FilumArthropoda
KelasInsecta
OrdoLepidoptera
Upaordo Rhopalocera
Superfamilia Hedyloidea  Hedylidae
Superfamilia Hesperioidea  Hesperiidae
Superfamilia Papilionoidea Papilionidae
                                         Pieridae
                                       Nymphalidae
                                        Lycaenidae
                                         Riodinidae

Morfologi Kupu-kupu/Ngengat

Kupu-kupu memiliki postur tubuh yang langsing, sayap pada umumnya berwarna cerah dan menarik, antena pada ujungnya membesar. Pada waktu istirahat sayapnya menutup dan tegak lurus dengan tubuh sehingga yang terlihat adalah permukaan sayap sebelah bawah. Kupu-kupu malam (ngengat) memiliki postur tubuh yang lebih gemuk, warna sayapnya kusam, antena pada umumnya tipe plumose (berbentuk seperti bulu ayam) dan pada waktu istirahat sayapnya terbuka, menutup abdomen (perut) sehingga yang terlihat adalah permukaan atas dari sayap (Salmah dkk, 2002).

Kupu-kupu dan ngengat memiliki jenis yang sangat banyak. Di Jawa dan Bali tercatat lebih dari 600 spesies kupu-kupu (Whitten dkk, 1999). Semua jenis kupu-kupu dan ngengat melalui tahap-tahap hidup sebagai telur, larva, pupa dan akhirnya bermetamorfosa menjadi kupu-kupu atau ngengat. Kupu-kupu umumnya hidup dengan menghisap madu bunga (nektar/sari kembang). Akan tetapi, beberapa jenis yang lain menyukai cairan yang dihisap dari buah-buahan yang jatuh di tanah dan membusuk, daging bangkai, kotoran burung dan tanah basah (Rosariyanto, 2005).


Kupu-kupu Rhopalocera terdiri dari beberapa famili, antara lain Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Danaidae, Satyridae dan Lycaenidae. Kupu-kupu Papilionidae merupakan salah satu famili yang mempunyai jenis yang beraneka ragam, dengan tanda-tanda sayap biasanya berwarna hitam yang dihiasi oleh warna-warna yang menarik. Sebagian besar jenis Papilionidae mempunyai ekor yang muncul dari vena keempat sayap belakang dan mempunyai vena procostal, oleh karena itu kupu-kupu ini disebut “Swallow Tail”. Venasi sayap depannya lengkap dan kaki depan sempurna. Panjang tubuh berukuran 5 sampai 7 mm sampai 28 cm dengan warna menyolok, serta tergolong ke dalam kelompok kupu-kupu yang mempunyai sayap yang kuat. Pupa menggantung dengan posisi tegak lurus dengan bantuan benang sutera pada bagian tengah tubuh. Famili ini memiliki700 jenis yang tersebar di dunia, terutama di daerah subtropik (Salmah dkk, 2002).

Peranan Kupu-kupu Terhadap Tanaman Berbungan

Kupu-kupu berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kedatangan kupu-kupu pada bunga yang mekar adalah untuk mendapatkan nektar yang terdapat pada dasar bunga. Selama nektaring, secara tidak sengaja serbuk sari yang terdapat pada bunga akan menempel pada tubuh kupu-kupu. Serbuk sari ini akan menempel pada kaki maupun sayap kupu-kupu, kemudian akan jatuh ke kepala putik bunga lain ketika kupu-kupu terbang atau pada saat kupu-kupu hinggap di atas tanaman berbunga lainnya. Penyerbukan (polinasi) tanaman erat hubungannya dengan kelangsungan generasi tumbuhan berikutnya (Smart, 1991).



Thursday, 24 November 2016

Pengertian Hama Tanaman

Pengertian Hama Pada Tanaman

Hama tanaman adalah makhluk hidup pengganggu tanaman budidaya berupa hewan yang dapat dilihat secara langsung dengan mata telanjang dan pada umumnya sangat merugikan. Sebagian besar hama yang mengganggu tanaman berupa serangga (insekta). Selain serangga, hewan lain yang juga dikategorikan sebagai hama, yaitu: tungau (acarinae), binatang lunak (molluska), vertebrata (babi, monyet, tikus, burung) dan sebagainya. Ada berbagai cara hama dalam merusak tanaman misalnya memakan daun tanaman (ulat pemakan daun, belalang), membuat korok-korok pada daun, melubangi dan membuat korok-korok batang (penggerek batang), penggerek umbi, menghisap cairan tanaman (Thrips sp. dan Myzuz sp.), memakan bunga dan sebagainya (Djojosumarto, 2008).


Hama dapat merusak tanaman secara langgsung maupun tidak langsung . Hama yang merusak secara langsung merupakan hama yang ketika menyerang bagian-bagian tanaman maka akan meninggalkan jejak/bekas gigitan, sedangkan hama yang merusak secara tidak langsung merupakan hama sebagai patogen/pembawa suatu penyakit. Menurut Rahmawati (2012) penyebab terdapatnya hama di suatu lingkungan pertanian dikarenakan terjadinya perubahan lingkungan, perpindahan tempat, perubahan sudut pandang manusia dan aplikasi insektisida yang tidak bijaksana atau berlebihan.

Klasifikasi Dan Morfologi Walang Sangit (Leptocorisa acuta Thunberg)

Klasifikasi Dan Morfologi Serangga Walang Sangit

Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi. Walang sangit merusak tanaman ketika mencapai stadia berbunga sampai matang susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna, mengapur dan gabah menjadi hampa. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Walang sangit akan mengeluarkan bau sebagai mekanisme pertahanan diri dari serangan predator atau makhluk pengganggu lainnya. Bau yang dikeluarkan juga untuk menarik walang sangit lain (Rahmawati, 2012).


Menurut Kalshoven (1981) dalam Efendy et al. (2010) walang sangit (Leptocorisa acuta T.) merupakan hama utama dari kelompok kepik (Hemiptera) yang merusak tanaman padi di Indonesia. Hama ini merusak dengan cara mengisap bulir padi stadia matang susu sehingga bulir menjadi hampa. Serangan berat dapat menurunkan produksi hingga tidak dapat dipanen. Hama ini juga memiliki kemampuan penyebaran yang tinggi, sehingga mampu berpindah ke tanaman padi lain yang mulai memasuki stadia matang susu, akibatnya sebaran serangan akan semakin luas. Selain itu, walang sangit betina mempunyai kemampuan menghasilkan telur lebih dari 100 butir.

Klasifikasi Walang Sangit

Klasifikasi Walang Sangit
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Insecta
Ordo Hemiptera
Famili Alynidae
Genus Leptocorisa
Spesies L. acuta Thunberg

Morfologi Walang Sangit

Walang sangit merupakan kelompok hewan invertebrata, filum arthropoda pada kelas insekta. Walang sangit memiliki bentuk tubuh langsing dan memanjang, berukuran sekitar 1,5-2 cm, punggung dan sayap (walang sangit dewasa berwarna coklat dan walang sangit mudah berwarna hijau), badan berwarna hijau, memiliki 3 pasang kaki, memiliki dua pasang sayap (satu pasang tebal dan satu pasang seperti selaput), tipe mulut menusuk dan menghisap, telur berbentuk oval yang berwarna hitam kecoklatan, memiliki “belalai” proboscis untuk menghisap cairan tumbuhan, abdomen jantan terlihat agak bulat atau tumpul sedangkan yang betina terlihat meruncing, metamorfosis tidak sempurna dan memiliki aroma atau bau khas.

Biologi dan Ekologi

Serangga dewasa walang sangit meletakkan telur pada bagian atas daun tanaman. Telur berbentuk oval dan pipih berwarna coklat kehitaman, diletakkan satu per satu dalam 1-2 baris sebanyak 1-21 butir. Lama stadia telur tergantung dengan suhu, lama periode telur berkisar 5-7 hari. Nimfa yang baru menetas berwarna hijau dan segera memencar mencari bulir padi sebagai makannya. Bentuk badan nimfa sama seperti bentuk dewasa, bedanya nimfa berwarna hijau dan tidak bersayap sedangkan dewasa berwarna coklat dan bersayap. Selama periode nimfa terjadi 4 kali pergantian kulit sebelum menjadi dewasa. Lama periode nimfa berkisar 17 hari pada suhu 21-23 derajat Celcius. Pada daerah yang lebih dingin, lama periode telur dan nimfa akan lebih panjang, misalnya periode telur dan nimfa masing-masing 13 dan 21 hari. Lama periode prapeneluran berkisar 8 hari. Jadi lama siklus hidup walang sangit berkisar 30-45 hari. Lama hidup dewasa berkisar 16-134 hari dengan menghasilkan telur rata-rata 248 butir per induk (Kartoharjono, 2009).

Telur walang sangit berwarna hitam kecoklat-coklatan yang diletakkan dalam barisan di permukaan atas daun padi. Jumlah telur pada setiap kelompok kira-kira 10-20 butir. Setiap walang sangit betina dapat bertelur lebih dari 100 butir telur dan telur akan menetas setelah 6-7 hari. Nimfa mengalami 5 instar selama 17-27 hari. Walang sangit yang dewasa berbentuk langsing dan panjangnya sekitar 16-18 mm. Bagian perut berwarna hijau atau krem dan pada punggungnya berwarna coklat kehijau-hijauan. Daur hidup rata-rata mencapai 5 minggu, kurang lebih 23-34 hari. Bila keadaan ideal daur hidupnya dapat mencapai 115 hari. Bila nimfa dan walang sangit dewasa mengisap cairan daun dan biji padi yang muda, matang susu untuk nutrisi selama daur hidupnya (Pracaya, 2008).

Menurut Rajapakse dan Kulasekera (2000) dalam Efendy et al., (2010) siklus hidup walang sangit 35-56 hari dan mampu bertelur 200-300 butir per induk. Kemampuan bertelur yang tinggi ini dapat menyebabkan peningkatan populasi hama walang sangit dengan cepat di tanaman padi sehingga hal ini akan meningkatkan tingkat serangan.

Menurut Kartoharjono (2009) walang sangit baik nimfa maupun dewasa aktif mencari makan pada pagi dan sore hari. Pada siang hari bersembunyi pada tempat-tempat yang terlindung. Serangga ini menyerang padi pada stadia generatif dan yang paling disukai adalah stadia matang susu. Jika di lapangan tidak ada tanaman padi, walang sangit dewasa akan pindah ketanaman rerumputan dan tanaman perdu pada daerah yang terlindungi dan bertahan hidup pada tanaman tersebut sampai ada tanaman padi untuk berkembangbiak. Curah hujan yang berselang seling menyebabkan populasi hama ini meningkat.

Walang sangit dewasa tahan dalam keadaan lingkungan yang tidak baik. Dalam keadaan cuaca yang kering, walang sangit mencari tempat yang teduh dan tinggal selama dalam kondisi yang panas secara berker umunan di antara daun-daun pepohonan. Walang sangit dewasa bertebrangan di area persawahan. Adanya walang sangit dapat diketahui dengan adanya bau khas walang sangit (Pracaya, 2008).

Total Pageviews

Kategori