Showing posts with label Seputar Tanaman. Show all posts
Showing posts with label Seputar Tanaman. Show all posts

Wednesday, 29 March 2017

Pengertian Tanaman Selada (Lactuca sativa L)

Pengertian Tanaman Selada

Tanaman selada (Lactuca sativa L) merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki prospek yang cerah dan bernilai ekonomis tinggi. Permintaan akan selada terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia dan meningkatnya kesadaran penduduk akan kebutuhan gizi. Masyarakat sangat menyukai sayuran ini karena memiliki rasa yang enak serta kandungan gizi yang baik. Diketahui bahwa dalam 100 g berat segar selada mengandung protein 1,2 g, lemak 0,2 g, karbohidrat 2,9 g, kalsium 22,0 g, fosfor 25 mg, zat besi 0,5 g, vitamin A 0,04 mg, vit B 8,0 mg, vit C 8,0 mg, dan air 94,8% (Rukmana, 1994).

Selada

Tanaman selada (Lactuca sativa L) adalah tanaman yang dimanfaatkan daunnya sebagai sayur lalapan yang berumur semusim dan tergolong kedalam famili composite. Menurut jenisnya daun selada ada yang dapat membentuk krop dan ada pula yang tidak. Jenis yang tidak membentuk krop daun-daunya berbentuk "rosette". Daun selada pada umumnya berwarna hijau terang sampai putih kekuningan. Selada lebih sering dikonsumsi mentah atau sebagai lalapan.

Selada merupakan tanaman semusim serta memiliki penampilan yang menarik, bunganya yang unik mengumpul dalam tandan membentuk sebuah rangkaian. Daun selada banyak mengandung vitamin yang bermanfaat bagi tubuh manusia diantaranya adalah vitamin A, vitamin B, dan vitamin C. Terdapat tiga jenis tanaman selada yang cukup familiar yaitu selada mentega, selada tutup, dan selada potong. Selain jenis ini, ada pula tanaman yang menyerupai selada baik syarat tumbuh maupun cara tanamnya, akan tetapi rasanya pahit. Tanaman yang dimaksud adalah Andewi (Cichorium endevia L).

Daftar Pustaka :

Rukmana, R. 1994. Bertanam selada dan Andevi. Penerbit Kanisius. Jogjakarta


Friday, 9 September 2016

Materi Kuliah Tinjauan Pustaka Teknologi Benih

Materi Kuliah (Tinjauan Pustaka Teknologi Benih)

A. Teknologi Benih

Teknologi benih ialah suatu ilmu pengetahuan mengenai cara-cara untuk dapat memperbaiki sifat-sifat genetik dan fisik dari benih (Feistritzer, 1975, dalam Karim, 1976). Benih merupakan inti dari kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman (Sutopo, 1998).

Dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang maju (Sadjad, 1994). Benih dikatakan bermutu, apabila memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah unggul secara genetik, fisiologik dan fisik dibandingkan benih lainnya.

Mutu fisiologi menampilkan kemampuan daya hidup (viabilitas) benih yang mencakup daya berkecambah dan kekuatan tumbuh (vigor) benih. Daya kecambah benih memberikan informasi kepada pemakai benih akan kemampuan benih tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi wajar dalam keadaan biofisik lapangan yang serba optimum (Sutupo, 1998). Untuk evaluasi kecambah dugunakan kriteria kecambah normal, kecambah abnormal, benih segar tidak tumbuh, dan benih busuk (ISTA, 2008).

a. Viabilitas dan Vigor Benih

Secara umum vigor diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan  yang sub optimal (Sutopo, 1984). Vigor dipisahkan antara vigor gentik dan vigor fisiologis. Vigor gentik adalah benih galur genetik yang berbeda-beda sedangkan vigor fisiologis adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yang sama. Vigor fisiologis dapat dilihat antara lain dari indikasi tumbuh akar dari plumula atau koleptilnya, ketahanan terhadap serangan penyakit dan warna kotiledon dalam efeknya terhadap tetrazolium test.

Secara ideal semua benih harus memiliki kekuatan tumbuh yang tinggi, sehingga bila ditanam pada kondisi lapang yang beraneka ragam akan tetap tumbuh sehat dan kuat serta berproduksi tinggi dengan kualitas baik. Vigor benih dicerminkan oleh dua informasi tentang viabilitas, masing-masing kekuatan tumbuh dan daya simpan benih. Kedua nilai fisiologis ini menempatkan benih pada kemungkinan kemampuannya untuk tumbuh menjadi tanaman normal meskipun keadaan biotisik lapangan produksi sub optimom atau sesudah benih melampaui suatu periode simpan yang lama.

Tanaman dengan tingkat vigor yang tinggi mungkin dapat dilihat dari performansi fenotipis kecambah atau benihnya, yang selanjutnya mungkin dapat berfungsi sebagai landasan pokok untuk ketahanannya terhadap berbagai unsur musibah yang menimpa. Vigor benih untuk kekuatan tumbuh dalam suasana kering dapat merupakan landasan bagi kemampuan tanaman tersebut untuk tumbuh bersaing dengan tumbuhan peganggu ataupun tanaman lainnya dalam budidaya.


b. Penyimpanan Benih

Penyimpanan benih adalah suatu kondisi dimana benih setelah dipanen diletakan pada tempat yang tepat, hingga akhirnya benih tersebut siap untuk ditanam. Tujuan utama dari penyimpanan benih adalah untuk mengawetkan bahan tanam dari satu musim ke musim berikutnya, viabilitas benih akan mampu bertahan lama apabila benih tersebut terhindar dari kondisi suhu dan kelembaban yang ekstrim serta uap air dan oksigen yang tidak stabil. Selama dalam proses penyimpana, benih akan mengalami fase kemunduran, menurut pendapat Harrington (1972) menyatakan bahwa proses kemunduran benih (deterioration) itu tidaklah dapat dicegah atau dihindarkan, melainkan yang dapat dilakuakan hanyalah mengurangi kecepatan kemunduran benih tersebut.

Untuk dapat mengurangi kecepatan kemunduran benih dapat dilakukan dengan beberapa usaha dan perlakuan pada penyimpanannya, yaitu dengan cara menurunkan kadar air yang terdapat didalam benih hingga 9%, sebelum benih dikemas di dalam ruang penyimpana, dan melakukan penyimpanan benih pada suatu tempat yang sushu dan kelembabanya bisa dikendalikan.

c. Masa kemunduran benih

Benih tanama kedelai menjadi masak sewaktu bobot keringnya mencapai maksimum, dan masak fisiologis pada tanaman kedelai didapat pada waktu tersebut, pada saat benihnya mencapai masak fisiologis maka vigor benih tanaman kedelai juga akan mencapai persentase tertinggi, setelah fase ini benih secara perlahan akan mengalamai kemunduran dan akhirnya benih akan mati.

Penurunan mutu benih kacang-kacangan di daerah tropis lembab sperti di Indonesia dihadapakan kepada masalah daya simpan yang rendah. Sadjad (1980) menyatakan bahwa dalam waktu 3 bulan pada suhu kamar 30 derajat celcius, benih kacang-kacangan tidak dapat mempertahankan viabilitasnya pada kadar air 14%.

Benih kedelai cepat mengalami kemunduran setelah panen, terutama dalam proses penyimpanan, dan distribusi antara yang jauh serta penanganan benih yang tidak tepat setelah distribusi, hal ini disebabkan oleh kandungan lemak dan protein relatif tinggi pada benih kedelai, sehingga perlu ditangani secara serius sebelum benih ditanam, untuk mencegah peningkatan kemunduran benih, diperlukan upaya memperbaiki vigor benih (Sutopo, 2002).

Menurut Haydecker (1972) kemunduran benih dapat ditengarai secara biokimia dan fisiologi. Indikasi biokimia kemunduran benih dicirikan antara lain penurunan aktivitas enzim, penurunan cadangan makanan, meningkatnya nilai konduktivitas. Indikasi fisiologis kemunduran benih antara lain penurunan daya berkecambah dan vigor. Kebanyakan parameter biokimia yang digunakan untuk mengetahui viabilitas dan vigor benih kedelai adalah secara umum seperti di atas, sedangkan keberadaan makromolekul penyusun membran antara lain membran mitokondria dan enzim respirasi belum diteliti.

d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kemunduran Benih

Benih akan mengalami kecepatan kemundurannya tergantung dari tingginya faktor kadar air benih, kelembaban relatif udara dan suhu. Hal ini dapat dikaitkan dengan hasil penelitian Copeland (1975) yang selanjutnya dijadikan sebagai patokannya dasar dalam kemunduran benih, yaitu bagi terjadinya penurunan 1% pada kadar air benih, maka umur benih akan bertahan sampai 2 kali, selanjutnya bagi tiap terjadinya penurunan 5 derajat Celcius dalam penyimpanannya, maka umur benih akan bertahan sampai 2 kali. Dengan pemeliharaan serta perlakuan-perlakuan yang terdapat terhadap benih, kecepatan kemundurannya akan dapat dikurangi. Maka pengaruhnya terhadap viabilitas dan vigor benih adalah geometris, artinya benih dengan kadar air 14% apabila dibandingkan dengan benih yang memiliki kadar air yang lebih rendah sampai batas 5%, ternyata yang berkadar air lebih rendah dapat mengurangi kecepatan terjadinya kemunduran.

Demikian pula dengan pemeliharaan yang tepat atas suhu udara penyimpanan, benih yang disimpan pada suhu udara 32 derajat celcius, apabila suhu udaranya mendapat penurunan 5%, maka pada suhu udara penyimpanan yang 27 derajat celcius umur benih akan bertahan 2 kali, pada penyimpanan dengan suhu 22 derajat celcius umurnya akan bertahan sampai 4 kali dan seterusnya.

e. Penyaluran Benih

Benih akan menjalani masa penyimpanan dimulai dari saat masak fisiologisnya hingga benih tersebut ditanam. Jadi benih sewaktu penyaluran sebenarnya sedang menjalani masa penyimpanan. Disini masa penyaluran tidak hanya berarti masa sewaktu benih dipindahkan dari satu tempat ketempat lainnya, tetapi juga mencakup masa sewaktu benih menunggu untuk dikirim baik benih tersebut di dalam gudang, gerbong, truk, pesawat terbang, perahu motor, atau disuatu pelabuhan menunggu pengiriman berikutnya. Benih yang menjalani periode penyaluran juga terkena perinsip penyimpanan yang sama seperti benih yang sedang yang berada di gudang penyimpanan. Perbedaan utama keduanya adalah lingkungan sekitar benih yang mengalami periode penyaluran cepat sekali berubah. Hal ini dikarenakan sistem transportasi, dan ketidak mempuan para pengangkut benih tersebut untuk menduga segala kemungkinan bahaya yang mungkin dihadapi benih selama perjalanan pengiriman.

Faktor lingkungan utama yang berpengaruh dalam menentukan apakah pengiriman benih akan sampai pada tempat tujuan dengan baik atau tidak adalah perubahan suhu yang harus dialami benih selama pengiriman, dan kadar air yang terdapat di dalam benih. Kedua faktor tersebut sangat dipengaruhi oleh kelembaban nisbi udara lingkungan dimana benih tersebut diletakan, benih akan terhindar dari kemunduran yang cepat bila dikemas dalam kemasan yang kedap uap air dan dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah penyimpanan sesuai dengan standar teknis, serta mempersingkat lamanya perjalanan/penyaluran benih.

f. Perkembangan Benih Kedelai

Proses perkecambahan benih kedelai merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi, dan biokimia (Sutopo,2002). Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penterapan air oleh benih, penyerapan air oleh benih berlangsung sampai jaringan mempunyai kandungan air 40-60% dan akan meningkat lagi pada saat munculnya radicle sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang tumbuh mempunyai kandungan air 70-90%. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih. Tahap kedika merupakan tahap dimana terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan ditranslokasikan ketitik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui peroses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh. Sementara daun belum dapat berfungsi sebagai organ untuk fotosintesa maka pertumbuhan kecambah sangat tergantung pada persediaan makanan yang ada dalam biji.

Proses pertumbuhan dan perkembangan embrio semula terjadi pada ujung-ujung tumbuh dari akar, kemudian diikuti oleh ujung-ujung tumbuh tunas. Proses pembagian dan membesarnya sel-sel ini tergantung dari terbentuknya energi dan molekul-molekul komponen tumbuh yang berasal dari jaringan persediaan makanan. Dimana molekul-molekul protein dan lemak penting untuk pembentukan protoplasma, sedang molekul-molekul poliskarida dan asam poliuronat untuk pembentukan dinding sel. Jadi metabolisme sel-sel embrio mulai aktif setelah menyerap air, yang meliputi reaksi-reaksi perombakan yang biasa disebut katabolisme dan sintesa komponen-komponen sel untuk pertumbuhan yang disebut anabolisme. Proses metabolisme ini akan terus berlangsung dan merupakan pendukung dari pertumbuhan kecambah hingga tanaman dewasa (Suseno, 1974).

Benih dapat berkecambah apabila faktor-faktor pendukung tersedia bagi perkecambahan benih, perkembangan perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Faktor dalam diantaranya adalah, tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan, sedangkan faktor luar yaitu, air, suhu, oksigen, cahaya, dan medium.


Sumber referensi/Daftar pustaka:

Copeland, L.O. 1975. Principles of seed science and technology. Minneapolis, Burgess Publishing Company. New York.

Harrington, J.F. 1972. Seed Storage and Longevity, In"Seed Biology", Vol. III, Ed T.T. Kozlowsky. Academic Press, New York and London.

Haydecker. W. 1972. Vigour in Viability of Seed. Chapter 8. Chapman and Hall Ltd.

International Seed Testing Association, 2008. International Rules for Seed Testing. Proc. Of the ISTA. 31 (1): 1-152.

Sadjad, S. 1980. Panduan mutu benih tanaman kehutanan di Indonesia. IPB, Bogor.

Suseno, H. 1974. Fisiologi dan Biokimia Kemunduran benih. Kursus Singkat Pengujian Benih. IPB. Bogor.

Sutopo, L. 1998. Teknologi benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.





Monday, 29 August 2016

Kandungan Dan Manfaat Tumbuhan Pacar Air

A. Kandungan Tumbuhan Pacar Air

Biji mengandung saponin dan fixed oil, (terdiri dari Y-spinasterol, B-ergosterol, balasminasterol, parinaric acid, minyak atsiri, kuersetin, turunan kaemferol, dan naphthagonidin). Bunga mengandung antosianin, sianidin, delfinidin, pelargonidin, malvidin, Kuersetin. Akar mengandung sianidin monoglikosida (Dalmartha, 2003). Daun pacar air (Impatiens balsamina Linn) mengandung kumarin, flavonoid, kuinon, saponin dan steroid (Adfa, 2007).

B. Kegunaan dan Khasiat

Tumbuhan pacar air berkasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Jenis-jenis penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan oleh tumbuhan pacar air adalah: tumor usus, kanker saluran pencernaan, usus buntu, menurunkan kolesterol, tekanan darah tinggi, remayik, pembengkakan, sakit pinggang, kaku pinggang, leher kaku, tarsuga (terkena duri ikan di tenggorokan), sigurdongon (peradangan di pinggir kuku), merangsang pertumbuhan rambut, pewarnaan kuku dan lain-lain.



Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Adfa, M. 2007. Senyawa antibekteri dari daun pacar air (Impatiens balsamina Linn). Jurnal Gradien Vol.4 No.1 Januari 2008: 318-322

Dalimartha, S. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 3. Jakarta: Penebar Swadaya.

Tinjauan Pustaka Klasifikasi Tumbuhan Pacar Air Dan Morfologinya

A. Sinonim dan Klasifikasi Tumbuhan Pacar Air (Impatiens balsamina Linn)

Klasifikasi dari tumbuhan pacar air (Impatiens balsamina Linn) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermathophyta (menhasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub-kelas : Rosidae
Ordo : Geraniales
Familia : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Spesies : Impatiens balsamina Linn (Wijayakusuma, 1999).

B. Nama lokal

Tumbuhan ini memiliki banyak nama. Adapun nama daerah di Indonesia: lahine, paru inai (sumatera), pacar banyu (Jawa), pacar cai (Sunda), kimhong (Jakarta), pacar toya, pacar aik (Nusa Tenggara), tilanggele duluku, kolendingi unggaagu (Sulawesi), bunga taho, inai anyer (maluku). Adapun nama asing : impatiens (Inggris), feng xian hua (Cina) (Wijayakusuma, 1999).

C. Morfologi

Pacar air (Impatiens balsamina Linn) merupakan tanaman semusim, berbatang basah, bulat berbuku, licin, tegak, tinggi 30-80 cm, bercabang, warnanya hijau kekuningan. Biasa ditanam di halaman sebagai tanaman hias atau tumbuh liar di tempat yang cukup mendapat air dan sinar matahari. Daun tunggal, bertangkai, bentuk lanset memanjang, panjang 6-15 cm. lebar 2-3 cm, tepi bergerigi tajam, ujung dan pangkal runcing, pertulangan menyirip, warna hijau muda. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, berkumpul 1-3, warnanya cerah (ada yang merah, orange, ungu, putih, dan sebagainya). Buahnya buah kendaga, berbentuk telur , elips, berambut, bewarna hijau, bila masak akan pecah menjadi 5 bagian yang terpilin. Bijinya bulat, kecil, hitam (Wijayakusuma, 1999).


Sumber pustaka/Daftar pustaka:

Wijayakusuma, H. dkk. 1999. Tanaman berkhasiat obat di Indonesa. Jakarta: Pustaka Kartini.

Sunday, 21 August 2016

Deskripsi Tanaman Lai-durian dan Penjelasannya Secara Rinci

A. Asal-usul ditemukannya spesies baru tanaman lai-durian

Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menjadi daerah asal tanaman lai-durian. Hal ini dapat disebabkan olleh tanaman durian dan kerabatnya banyak ditemukan dihutan tropis kalimantan (Sobir dan Napitulu, 2012).

Menurut Sunaryo (2015) tanaman lai-durian banyak ditemukan di Kalimantan Timur dikarenakan banyak terdapat daerah yang merupakan sentra/pusat keberadaan tanaman yang menjadi tetua bagi tanaman lai-durian yaitu tanaman durian (Durio zibethinus) dan lai (Durio kutejensis) ditanam secara bersama. Tanaman lai-durian di Kalimantan Timur memiliki nama yang berbeda-beda disetiap daerahnya, di Kutai Barat lai-durian dinamakan holai atau lai sentawar, di Kutai Kartanegara dinamakan lai mendong batuah, sementara ditempat-tempat lain disebut sebagai durian-lai atau lai-durian (Sunaryo, 2015).

Penyebaran tanaman lai-durian di Kalimantan Timur lebih banyak ditemukan di kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Barat (Sunaryo et al., 2015) hal ini dikarenakan hampir keseluruhan kecamatan di wilayah Kutai Kartanegar merupakan pusat penanaman lai dan pula menjadi daerah untuk penanaman durian, sehingga didapatkan tanaman lai-durian yang beragam dengan jumlah yang banyak.

Lai-durian merupakan hasil persilangan alami (natural outcrossing) antara durian (Durio zibethinus) dan lai (Durio kutejensis) (Sunaryo et al,. 2015). Dikarenakan tanaman ini hasil dari persilangan antara durian dan lai maka karakter morfologinya tanaman lai-durian adalah hasil perpaduan dari kedua tanaman tersebut.

Berdasarkan karakter morfologi tanaman lai-durian merupakan tanaman tahunan dengan bentuk pohonnya (tajuk) berbentuk seperti payung, bunga tanaman lai-durian adalah bunga sempurna yaitu memiliki kelamin jantan (serbuk sari) dan kelamin betina (putik) berada dalam satu bunga, aroma dari buahnya tidak menyengat, dengan warna kulit buah bewarna hiaju, daging buah bewarna kuning keemasan, dengan rasa manis dan tekstur yang lebih lembut dan kering, serta kandungan alkohol yang rendah (Sunaryo, 2015; Sunaryo et al., 2015).

Tanaman lai-durian memiliki karakter morfologi ukuran daun dan warna bunga yang tidak sama dengan durian ataupun lai akan tetapi berada ditengah-tengah antara tanaman durian dan lai, dari segi warna bunga, tanaman lai-durian memiliki bunga yang bewarna merah muda, sedangkan bunga pada tanaman durian bewarna putih atau putih kekuningan, dan pada tanaman lai memiliki bunga yang bewarna merah. Hasil diatas mendukung indikasi bahwa tanaman lai-durian merupakan hasil dari persilangan secara natural antara durian dan lai (Sunaryo et al., 2015)

Telah diketahui bahwa Durio sp memiliki tingkat variasi yang sangat tinggi dalam hal morfologi tanamannya, buahnya dan kandungan nutrisinya. Keragaman tersebut dikarenakan sistem penyerbukan secara terbuka oleh spesies durian. Hal ini yang menjadi asal munculnya spesies baru yaitu tanaman lai-durian. Lai-durian memiliki tampilan morfologi yang berbeda diantara durian dan lai (Sunaryo et al., 2015)

Sebagian ahli tanaman menggolongkan lai-durian dalam spesies Durio excelus (Sunaryo., 2015). Durio excelus adalah golongan durian inedible fruit (tidak bisa dimakan) dengan karakteristik buah yang bewarna merah atau jingga dengan daging buah bewarna merah gelap yang tidak memiliki rasa.

Deskripsi tersebut sangat berbeda dengan buah tanaman lai-durian yang dijabarkan oleh Sunaryo et al (2015) yaitu buah tanaman ini bewarna hijau dengan daging buah bewarna kuning keemasan. Layaknya durian dan lai, tanaman ini dapat dimakan serta memiliki kandungan gizi yang sama tingginya dengan durian ataupun lai.



Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Sobir, and Napitupulu RM, 2010. Bertanaman durian unggul. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sunaryo W, 2015. Aplikasi DNA Bacording Untuk Analisis Keragaman Genetik Lai-durian (Durio zibethinus x kutejensis). Asal Kalimantan Timur. Biodiversitas. Vol 1(6)1273-1277.

Sunaryo W, Hendra M, and Rudarmono, Suprapto H, Pratama AN, Rahman, 2015. Exploration and indentification of lai-durian, new highly potential cultivar derived from natural crossing between Durio zibethinus and Durio kutejensis in East Kalimantan. Asian J Microbiol Biotech Env Sci 17 (2): 1-7.

Wednesday, 22 June 2016

Karakteristik Tanaman Padi Sawah Varieatas Unggul Nasional

A. Karakteristik Tanaman Padi Sawah Varietas Unggul Nasional

Karakteristik padi sawah

Varieats padi unggul merupakan salah satu varietas padi hasil dari penerapan tekhnologi pertanian dalam pembudidayaan secara nyata yang dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Padi sawah berbeda dengan padi gunung, produktivitas hasil gabah dari padi sawah lebih tinggi dari pada padi gunung. Pada umumnya padi sawah di budidaya pada lahan sawah yang digenangi/dialirin air secara berkelanjutan, sedangkan padi gunung di budidayakan pada lahan kering yaitu daerah perbukitan, air yang didapat adalah dari curah hujan pada masing-masing wilayah tempat budidaya padi gunung tersebut. Pada waktu tertentu padi sawah sangat membutuhkan genangan air, terutama dari musim tanam sampai mulai berubah untuk meningkatkan produksi gabah. Padi sawah saat memasuki fase pembungaan sangat membutuhkan cukup air dan pupuk agar gabah yang dihasilkan tidak hampa melainkan bernas. Penggunaan benih padi dari varietas unggul sangat direkomendasikan karena mampu meningkatkan produksi gabah yang dapat berkuntribusi cukup besar dalam meningkatkan swasembada beras nasional (Yandianto, 2003).

Padi sawah varietas unggul nasional memiliki beberapa sifat unggul diantaranya yaitu: produktivitas tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, rasa enak, umur genjah, dan memiliki harga jual yang lebih baik atau lebih tinggi. Sejak 40 tahun dari (1960'an-2000) telah lebih dari 150 varietas padi unggul yang dilepas untuk dibudidayakan baik itu padi sawah, padi gogo, padi pasang surut, padi dataran rendah dan padi dataran tinggi. Dari banyaknya varietas padi unggul yang di lepas, hanya sebagian kecil yang mampu berkembang luas dan bertahan dalam waktu yang lama, beberapa diantaranya berkembang dalam sekala kecil dan sebagian tidak berkembang atau kurang diterima oleh petani (Hadi dkk, 2005).

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Hadi, Setia., Budiarti, Tati dan Haryadi., 2005. Studi komersial benih padi sawah.

Yandianto, 2003. Bercocok tanam padi. M2S, Bandung

Thursday, 16 June 2016

Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai

 
Syarat tumbuh kedelai

 A. Pengertian Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai

Syarat tumbuh tanaman kedelai merupakan lokasi atau tempat untuk kedelai dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dengan syarat kondisi lingkungan baik itu iklim dan tanah yang cocok terhadap tanaman kedelai itu sendiri. Tanaman kedelai memerlukan syarat lokasi tumbuh adalah sebagai berikut:

1. Iklim

Tanaman kedelai dapat tumbuh optimal pada kondisi lingkungan tumbuh yang optimal pula. Suhu tanah yang optimal pada proses perkecambahan yaitu 30 derajat celsius. Sementara pada suhu tinggi (>30 derajat celcius), banyak biji yang mati akibat respirasi air dari dalam biji terlalu cepat (Adisarwanto, 2005). Tanaman kedelai dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada ketinggian tempat sekitar 1500 dpl.

Disamping suhu tanah, perkembangan tanaman kedelai khusunya pembentukan bunga juga dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Suhu lingkungan yang optimal untuk pembentukan bunga yaitu 24-25 derajat celcius dan bila suhu lingkungan sekitar 40 derajat celcius, bunga tersebut akan rontok sehingga berpengaruh pada jumlah polong dan biji kedelai yang menjadi berkurang. Sementara apabila suhu linkungan 10 derajat celcius, proses pembungaan dan pembentukan polong menjadi terhambat (Adisarwanto, 2005).

2. Tanah

Kedelai menghendaki kondisi tanah yang subur dan banyak mengandung humus atau bahan organik, dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah yang memiliki drainase dan aerasi tanah yang cukup baik (Subroto, 1990).

Tanaman kedelai mempunyai daya adaptasi yang luas terdapat berbagai jenis tanah asal drainase dan aerasi tanah cukup baik. Berdasarkan kesesuaian jenis tanah untuk pertanian.

Tanaman kedelai memerlukan pH tanah yang terbaik sebagai syarat tumbuh yaitu antara 5,8-7,9. Namun pada tanah dengan pH 4,5 pun kedelai masih dapat tumbuh, sehingga tanah ultisol pun masih dapat dimanfaatkan sebagai media penanaman kedelai. Dengan penambahan kapur, pada umumnya hasil panen dapat ditingkatkan (Subroto, 1990).



Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Adisarwanto, T. 2005. Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.

Subroto. 1990. Tanah pengelolaan dan dampaknya. Fajar Gemilang, Samarinda.


Artikel Terkait:

Taksonomi dan morfologi tanaman kedelai

Latar belakang daya perkecambahan kedelai

Wednesday, 15 June 2016

Syarat Tumbuh Padi Gogo/Ladang

Syarat tumbuh padi gogo

A. Syarat Tumbuh Tanaman Padi Gogo/Ladang

1. Tanah 

Padi ladang dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, sehingga jenis tanah tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi ladang. Sedangkan yang lebih berpengruh terhadap pertumbuhan dan hasil adalah sifat fisik, kimia, dan biologi tanah atau kata lain kesuburanya. Untuk pertumbuhan tanaman yang baik diperlukan keseimbangan perbandingan penyusun tanah yaitu 45% bagian mineral, 5% bahan organik, 25% bagian air, dan 25 % bagian udara, pada lapisan tanah setebal 0-30 cm (Hantoro, 2007).

Struktur tanah yang cocok untuk tanaman padi ladang ialah struktur tanah yang remah. Tanah yang cocok berfariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus <50%. Keasaman (pH) tanah bervariasi dari 5,5 sampai 8,0. Pada pH tanah yang lebih rendah pada umumnya dijumpai gangguan kekahatan unsur P, keracunan Fe dan Al. Sedangkan bila pH lebih besar dari 8,0 dapat mengalami kekahatan Zn (Hantoro, 2007).

2. Iklim

Padi ladang memerlukan air sepanjang pertumbuhannya dan kebutuhan air tersebut hanya mengandalkan curah hujan. Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 100 mm/bulan selama 3 bulan berturut-turut atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam dimusim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif. Di dataran rendah padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-650 m dpl dengan temperatur 19-23 derajat celcius (Hantoro, 2007).

Tanaman padi memerlukan penyinaran matahari penuh. Indonesia memiliki panjang radiasi matahari kurang lebihnya 12 jam sehari dengan intensitas radiasi 350 kal.cm-2.hari-1 pada musim penghujan.
Intensitas radiasi ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan daerah subtropis yang dapat mencapai 550 kal.cm-2.hari-1. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman (Hantoro, 2007).


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Hantoro, F.R.P. 2007. Teknologi Budidaya Padi Gogo. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Tuesday, 14 June 2016

Klasifikasi dan Morfologi Padi Secara Umum

Padi

A. Pengertian Tanaman Padi

Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman dari bangsa rumput-rumputan yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok di dunia. Padi tergolong ke dalam genus Oryza yang termasuk dalam rumpun Oryzeae dalam familia Gramineae (rumput-rumputan), dimana sekitar 20 spesies tersebar di dunia terutama di daerah tropis basah Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara, Cina Selatan, Amerika Selatan dan Tengah, dan Australia. Padi yang dibudidayakan saat ini termasuk dalam genus Oryza dengan spesies utama yaitu Oryza sative L. spesies lain yaitu Oryza glaberima yang tumbuh secara preodik di beberapa wilayah negara-negara Afrika Barat, secara bertahap mulai tergantikan oleh Oryza sativa (De Datta, 1981). Berikut adalah klasifikasi lengkap tanaman padi secara umum.

B. Klasifikasi Tanaman Padi Secara Umum

Menurut Tjitrosoepomo (2005) tanaman padi dalam sistemetika tumbuh dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

B.1. Klasifikasi padi:


  • Kingdom : Plantae (tumbuhan)
  • Sub Kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
  • Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
  • Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
  • Kelas : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
  • Sub Kelas : Commelidinidae
  • Ordo : Poales
  • Famili : Poaceae/Gramineae (suku rumput-rumputan)
  • Genus : Oryza
  • Spesies : Oryza sativa L.

C. Morfologi Padi Secara Umum

Morfologi tanaman padi menyangkut bentuk dan struktur organisme tersebut yang merupakan dasar utama dalam klasifikasi tanaman dan digunakan sebagai alat untuk mengenal adaptasi tanaman terhadap lingkungannya (Manurung dan Ismunadji, 1988).

Morfologi tanaman padi merupakan susunan tubuh tanaman yang dibagi menjadi dua bagian yaitu vegetatif yang terdiri dari akar, batang, dan daun. Sedangkan bagian generatif yang terdiri dari malai, bunga, dan buah.

C.1. Morfologi bagian vegetatif tanaman padi

c.1.1. Akar

Akar tanaman padi termasuk golongan akar serabut. Akar padi berfungsi untuk menyerap zat makanan dan air, proses respirasi dan menopang tegaknya batang. Akar padi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu akar primer dan akar adventif. Akar primer yaitu akar yang tumbuh dari kecambah biji, sedangkan akar adventif berupa akar yang tumbuh di dekat buku-buku. Kedua akar ini tidak banyak mengalami perubahan setelah tumbuh karena akar padi tidak mengalami pertumbuhan sekunder (Supriadiputra dan Setiawan, 2000).

c.1.2. Batang

Batang padi terutama berfungsi untuk menopang tanaman secara keseluruhan dan mendistribusikan zat makanan ke seluruh bagian tanaman (Simanjuntak, 2005). Menurut Herawati (2012), padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun dari ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu, bubungnya ditutupi oleh buku. Panjang ruas tidak sama, ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua , ruas yang ketiga dan seterusnya lebih panjang dari pada ruas yang didahuluinya. Ditambahkan Supriadiputra dan Setawan (2000), ruas-ruas ini pada masa awal pertumbuhan bentuknya pendek dan bertumpuk. Setelah masa reproduktif, ruas-ruas tumbuh memanjang dan berongga. Pertunasan (tumbuhnya tunas) dimulai pada buku paling bawah, berupa tumbuhnya tunas sekunder. Kemudian dari tunas sekunder ini tumbuh tunas lainnya sehingga terbentuk tunas yang banyak.

c.1.3. Daun

Daun padi memiliki crikhas, yaitu adanya lidah daun dan telinga daun. Hal ini menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari jenis rumput yang lain. Bagian-bagian daun padi, adalah:
  • helaian daun : terletak pada batang padi dan selalu ada, bentuknya memanjang seperti pita, panjang dan lebar helaian daun tergantung varietas padi yang bersangkutan.
  • pelepah daun (upih) : merupakan bagian daun yang menyelubungi batang, pelepah daun ini berfungsi memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak, dan hal ini selalu terjadi.
  • lidah daun : lidah daun terletak pada perbatasan antara helai daun dan upih. Panjang lidah daun berbeda-beda, tergantung pada varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang. Fungsi lidah daun adalah mencegah masuknya air hujan di antara batang dan pelepah daun. Disamping itu, lidah daun juga mencegah infeksi penyakit, sebab media air memudahkan penyebaran penyakit (Herawati, 2012).

C.2. Bagian generatif

c.2.1. Malai

Menurut Herawati (2012), malai adalah sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas. Ruas buku terakhir dari batang merupakan sumbu utama dari malai, sedangkan bulir-bulir terletak pada cabang pertama dan cabang kedua. Panjang malai dapat dibedakan menjadi 3 ukuran, yaitu malai pendek (kurang dari 20 cm), malai sedang (antara 20-30 cm) dan malai panjang (lebih dari 30 cm). Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 7-30 buah cabang. AAK (1992), menambahkan bahwa panjang malai, banyaknya cabang-cabang tiap malai dan bulir padi tiap cabang, tergantung pada varietas padi yang ditanam dan cara bercocok tanam.

c.2.2. Bunga

Bunga padi tergolong dari jenis bunga berkelamin dua. Setiap bunga mempunyai enam benang sari yang bertangkai pendek dengan dua tangkai putik dan dua buah kepala putik. Penyerbukan dan pembuahan dimulai dengan penempelan serbuk sari pada kepala putik. Proses tersebut akan menghasilkan buah padi (gabah) (Supriadiputra dan Setiawan, 2000).

c.2.3. Biji/buah padi

Menurut Herawati (2012), buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau butir/gabah, sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini merupakan hasil penyerbukan dan pembuahan yang mempunyai bagian-bagian sebagai berikut: embrio (lembaga), endosperm dan bekatul. Proses penyerbukan biasanya berlangsung antara jam 09.00-11.00 pagi. Pemasakan buah memerlukan waktu sekitar 30 hari untuk daerah tropis dan mencapai 65 hari untuk daerah sub tropis.


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Aksi Agraris Kanisius. 1992. Budidaya tanaman padi. Kanisius, Yogyakarta.

De Datta, S.K. 1981. Principles and practice of rice production. A Wiley-Interscience Publication. John Wiley & Sons. New York.

Herawati, W.D. 2012. Budidaya padi. Javalitera, Jogjakarta.

Manurung, S.O. dan M. Ismunadji. 1988. Morfologi dan fisiologi padi dalam M. Ismunadji, S. Partohardjono, M. Syam, dan A. Widjono (ed). Padi buku 1. Balai penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Bogor. Hal 55-102.

Simanjuntak, L. 2005. Usaha tani PATI (Padi, Azolla, Tiktok, dan Ikan). Agro Media Pustaka, Jakarta.

Supriadiputra, S. dan A.I, Setiawan. 2000. Mina padi: Budidaya ikan bersama padi. Penebar Swadaya, Jakarta.






Taksonomi dan Morfologi Kedelai

A. Pengertian Tanaman Kedelai

Kedelai merupakan tanaman pangan yang dimanfaatkan polongnya sebagai salah satu bahan makanan pokok yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat khususnya Indonesia karena nilai gizinya yang tinggi. Ada beberapa nama spesies kedelai di dunia namun yang paling dikenal dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia adalah spesies Glycine max (L).Merr.

Taksonomi dan Morfologi Kedelai

B. Taksonomi Tanaman Kedelai

Menurut Adisarwanto (2008), tanaman kedelai termasuk ke dalam famili leguminosae, taksonomi lengkapnya adalah sebagai berikut:


  • Divisi : Spermatopyta
  • Sub Divisi : Angiospermae
  • Klas : Dicotyledoneae
  • Ordo : Polypetales
  • Famili : Leguminoseae
  • Sub Famili : Papilionoidaea
  • Genus : Glycine
  • Spesies : Glycine max (L.). Merr.

C. Morfologi Tanaman Kedelai

Tubuh kedelai tersusun atas dua alat (organ) utama, yaitu organ vegetatif dan organ generatif. Organ vegetatif (organ nutritivum) merupakan organ hara yang berfungsi sebagai alat pengembil, pengankut, pengolah, penyalur, dan penyimpan cadangan makanan pada suatu tanaman seperti akar, batang, dan daun. Sedangkan organ generatif merupakan organ sebagai alat berkembangbiakan tanaman meliputi buah, bunga, polong, dan biji.

C.1. Organ vegetatif

c.1.1. Akar tanaman kedelai

Akar kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji yang muncul di sekitar misofil. Calon akar tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah, sedangkan kotiledon yang terdiri dari dua keping akan terangkat kepermukaan tanah akibat pertumbuhan yang cepat dari hipokotil. Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam, yaitu akar tunggang dan akar sekunder (serabut) yang tumbuh dari akar tunggang (Adisarwanto, 2005).

Selain itu kedelai juga seringkali membentuk akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil.
Pada umumnya, akar adventif terjadi karena cekaman tertentu, misalnya kadar air tanah yang terlalu tinggi. Perkembangan akar kedelai sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kimia tanah, jenis tanah, cara pengolahan lahan, kecukupan unsur hara, serta ketersediaan air di dalam tanah.

c.1.2. Batang dan cabang tanaman kedelai

Hipokotil pada proses perkecambahan merupakan bagian batang, mulai dari pangkal akar sampai kotiledon. Hipokotil dan dua keping kotiledon yang masih melekat pada hipokotil akan menerobos ke permukaan tanah. Bagian batang kecambah yang berada di atas kotiledon tersebut dinamakan epikotil. Pertumbuhan batang kedelai dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe determinate dan indeterminate (Adisarwanto, 2005).

Pertumbuhan batang tipe determinate ditunjukan dengan batang yang tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga. Sedangkan pertumbuhan batang tipe indeterminate ditunjukan dengan pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun, walaupun tanaman sudah mulai berbunga.

c.1.3. Daun tanaman kedelai

Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun bertangkai tiga (trifoliate leaves) yang tumbuh selepas masa pertumbuhan. Umumnya, bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik (Suprapto, 1997).

Bentuk daun diperkirakan memiliki kolerasi yang sangat erat dengan potensi produksi biji. Daun kedelai mempunyai stomata, berjumlah antara 190-320 buah per m2. Umumnya daun mempunyai bulu dengan warna cerah dan jumlahnya bervariasi. Panjang bulu bisa mencapai 1 mm dan lebar 0,0025 mm. Kepadatan bulu bervariasi, tergantung varietas, tetapi pada umumnya diantara 3-20 buah per mm2.

C.2. Organ generatif

c.2.1. Bunga kedelai

Tanaman kedelai di Indonesia mempunyai panjang hari rata-rata sekitar 12 jam dan suhu udara yang tinggi (>30 derajat celcius), sebagian besar mulai berbunga pada umur antara 5-7 minggu. Bunga kedelai menyerupai kupu-kupu. Tangkai bunga umumnya tumbuh dari ketiak daun yang diberi nama rasim. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 2-25 bunga, tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai.

c.2.2. Polong tanaman kedelai

Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah plong yang terbentuk pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50 buah, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning kecoklatan pada saat masak (Adisarwanto, 2005).

c.2.3. Biji kedelai

Biji tanaman kedelai berkeping dua yang terbungkus oleh kulit embrio yang terletak diantara keping biji. Warna kulit biji bermacam-macam, ada yang kuning, hitam, hijau, dan coklat. Pusar biji adalah jaringan bekas biji kedelai yang menempel pada dinding buah. Bentuk biji kedelai pada umumnya bulat lonjong, ada yang bundar atau bulat agak pipih. Besar biji bervariatif tergantung varietas (Suprapto, 1997). Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pemanenan selesai, biji kedelai dapat langsung ditanam, namun demikian biji kedelai tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13%.

Sumber rujuka/Daftar pustaka:

Adisarwanto, T. 2005. Budidaya kedelai dengan pemupukan yang efektif dan pengoptimalan peran bintil akar. Penebar Swadaya, Jakarta.

Adisarwanto, T. 2008. Budidaya kedelai tropika. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suprapto. 1997. Bertanam kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.





Sunday, 22 May 2016

Syarat Lokasi Tumbuh Tanaman Lada

Bagaimanakah syarat lokasi tumbuh tanaman lada yang baik?

A. Syarat Lokasi Tumbuh Tanaman Lada

Syarat lokasi tumbuh tanaman lada sangat penting untuk diperhatikan dan harus dipenuhi karena keadaan sekitar tanaman sangat mendukung perkembangan tanaman tersebut . Syarat lokasi tumbuh tanaman lada meliputi ketinggian tempat, iklim, dan jenis tanah.

1. Ketinggian tempat

Ketinggian tempat yang baik untuk pertumbuhan lada berkisar antara  3-1.100 m dpl yaitu antara dataran rendah, sedang, hingga sedikit memasuki daerah pegunungan.

2. Iklim

Iklim yang cocok untuk tanaman lada adalah daerah yang memiliki perubahan musim yang cukup baik dan musim kemaraunya cukup panjang sekitar (2-3 bulan) untuk memaksimalkan perkembangan dan bertumbuhan bunga dan buah lada.

3. Jenis Tanah

Jenis tanah yang baik untuk tanaman lada adalah yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. subur dan mengandung banyak bahan organik.
  2. tidak tergenang air jika musim hujan dan tidak terlalu kering di musim kemarau.
  3. pH/kadar keasaman tanah berkisar 5,5-7,0.
  4. Jenis tanah podsolik, lateritic, latosol, dan ultisol).
  5. lapisan tanah yang mengandung humus sekitar 1-2,5 meter
  6. tanah gambut
Perlu diketahui bahwa untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, produksi buah, dan mempertahankan keremajaan vegetatif  membutuhkan kondisi tanah sebagai berikut:
  1. bahan organiknya banyak.
  2. struktur organiknya baik dan ramah.
  3. drainase, sirkulasi udara dan air dalam tanah baik.
  4. komposisi kimia dan fisika tanah juga baik
  5. mengandung unsur seperti N, P, K2O, CaO, MgO, dan SO4.
Demikian penjelasan singkat untuk syarat lokasi tumbuh tanaman lada.

Sumber referensi:

Sarpian.T. 1999. Lada, meprcepat berbuah, maningkatkan produksi, dan memperpanjang umur. Penerba Swadaya: Jakarta.

Total Pageviews

Kategori