Monday, 9 September 2019

Klasifikasi dan Morfologi Burung Murai Batu

Klasifikasi dan Morfologi Burung Murai Batu


Murai batu adalah sejenis burung dengan nama latin (Copsychus malabaricus) termasuk ke dalam keluarga Muscicapidae atau sejenis dengan burung cacing. Burung ini sudah tersebar di wilayah pulau Sumatra, Semenanjung Malaysia, dan sebagian pulau Jawa. Di Kalimantan Utara juga terdapat spesies burung murai alis putih (Copsychus malabaricus stricklandii). Oleh beberaap pakar menganggap burung murai alis putih adalah spesies tersendiri.


Di pulau Jawa burung murai batu populasinya mulai berkurang serta penyebarannya sangat terbatas. Murai batu saat ini hanya bisa ditemukan dibeberapa tempat yang masih mamiliki hutan alami seperti tempat-tempat konservasi atau tempat wisata alam contohnya seperti Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Meru Betiri dan Hutan Wisata Pananjung Pangandaran.

Murai batu hidup dan berkembangbiak  di hutan alami yang rapat atau hutan sekunder. Burung ini terkenal sangat kuat dalam mempertahankan wilayahnya (teritorial). Burung ini lebih menyenangi makanan seperti ulat dan serangga kecil.

Burung murai batu dikenal dengan kicauannya yang unik dan merdu sehingga dinobatkan sebagai burung yang memiliki suara indah (The Best Song Birds – Delacour, 1947). Oleh masyarakat burung ini sangat diminati sebagai burung hias dan burung kicau . Murai batu sangat digemari oleh pecinta kicauan karena memiliki suara kicauan yang indah.

Klasifikasi Murai Batu

KINGDOM : Animalia
FILUM : Chordata
KELAS : Aves
ORDO : Passeriformes
FAMILI : Muscicapidae
GENUS : Copsychus
SPESIES : Copsychus malabaricus

Morfologi Murai Batu

Burung murai batu hampir seluruh bagian tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu yang berwarna hitam kecuali pada bagian bawahnya berwarna merah cerah hingga jingga kusam. Pada bagian kepalanya terdapat semburat berwarna biru. Tubuhnya berukuran berkisar 14-17 cm. Burung ini akan selalu menjungkitkan ekornya ketika dalam ke adaan terkejut atau sedang berkicau.

Dalam membedakan mana burung jantan dan betina dapat dilihat dari bentuk fisiknya. Burung murai batu jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan suaranya lebih keras dan berfariasi. Sedangkan murai batu betina memiliki ukuran tubuh lebih kecil dan suaranya tidak keras serta monoton.

Sunday, 8 September 2019

Klasifikasi dan Morfologi Belalang

Klasifikasi dan Morfologi Belalang

Belalang merupakan serangga pemakan tumbuhan atau disebut juga herbivora yang berasal dari subordo Caelifera dalam ordo Orthoptera. Salah satu jenis serangga yang dilengkapi dengan sepasang antena dengan ukuran yang selalu lebih pendek dari ukuran tubuhnya, belalang juga memiliki ovipositor pendek. Belalang dapat menghasilkan suara stridulasi yaitu suara yang dihasilkan dari menggosokan femur belakang terhadap sayap depan atau abdomen, suara juga terdengar ketika belalang terbang karena kepakan sayapnya. Femur berukuran panjang dan sangat berguna untuk belalang melompat berpindah ketempat yang lainnya.


Pada umumnya belalang memiliki sayap yang berfungsi untuk terbang dan ada juga yang bersayap namum tidak dipergunakan untuk terbang. Membedakan mana belalang jantan dan belalang betina dapat dilihat dari ukurantubuhnya. Belalang jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil sedangkan betina memiliki ukuran tubuh lebih besar.

Sesungguhnya belalang dapat dikonsumsi oleh manusia namun memiliki efek samping yang mempengaruhi kesehatan tubuh seperti alergi. Di dalam hukum Islam belalang merupakan hewan yang ketika sudah mati masih dihalalkan untuk dimakan menjadi lauk.

Belalang lebih suka hidup dan berkembang biak pada lingkungan yang lembah terbuka dengan banyak ditumbuhi rumput-rumput hijau sebagai sumber makanannya. Ada juga spesies lainnya yang hidup di hutan belantara, tebing, tanah, dan bebatuan yang berlumut sebagai sumber makanannya.

Klasifikasi Belalang

Kingdom  :  Animalia
Phylum  :  Artopoda
Class  :  Insecta
Ordo  :  Orthoptera
Sub-Ordo :  Caelifera
Family  :  Acrididae
Genus  :  Dissosteira
Spesies  :  Dissosterira carolina

Morfologi belalang

Belalang memiliki 3 bagian tubuh utama seperti kepala, dada (thorak) dan perut (abdomen). Selain itu tetdapat juga anggota tubuh lainnya seperti kaki yang bersendi berjumlah 6, sayap 2 pasang untuk terbang dan sepasang antena sebagai alat sensor.

Kaki pada belalang memiliki 2 fungsi yang berbeda seperti kaki pada bagian depan digunakan untuk berjalan, dan bagian kaki yang lebih panjang digunakan untuk melompat.

Belalang tidak memiliki telinga, tetapi bisa mmerasakan getaran di udara dengan bantuan alat sensor yang disebut dengan tympanum. Pada belalang tympanum terletak di abdomen pertama.

Belalang memiliki lima mata yang terdiri dari mata (2 compound eye dan 3 ecelli). Alat pernafasan belalang berupa trakea. Belalang merupakan serangga dengan kerangka luas (exoskeleton).

Membedakan belalang betina dengan yang jatan dapat dilihat dari ukuran tubuhnya. Belalang betina memiliki ukuran tubuh lebih besar berkisar 58-71 mm sedangkan yang jantan memiliki ukuran tubuh lebih kecil berkisar 49-63 mm.

Friday, 6 September 2019

Tinjaun Umum Pupuk Organik Cair Nasa

Tinjaun Umum Pupuk Organik Cair Nasa

POC Nasa terbuat dari limbah ternak serta unggas, limbah alam serta tanaman, beberapa tanaman tertentu serta "bumbu-bumbu/zat-zat alami tertentu" hingga merupakan bahan organik murni beberap cair yang diproses dengan cara alamiah dengan konsep "zero emision concept”.


Fungsi POC Nasa amat kompleks dan multiguna tak hanya terpenting dipergunakan untuk semua type tanaman pangan (padi,palawija) hortikultura (sayuran, buah, bunga) serta tahunan (coklat, kelapa sawit) POC Nasa bisa pula digunakan untuk tenak/unggas serta ikan/udang. Kandungan unsur mikro dalam 1 liter POC Nasa memiliki manfaat setara dengan kandungan unsur hara makro 1 ton pupuk kandang serta dilengkapi dengan kandungan asam humat serta asam fulvat yang berangsur-angsur memperbaiki konsistensi (kegemburan) tanah yang keras serta melarutkan sp-36 dengan cepat, tak hanya itu pula POC Nasa dilengkapi dengan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) auxin, giberelin serta sitokininyang bakal mempercepat untuk berkecambah biji, pembuatan akar.

POC Nasa mempercepat serta memperbanyak pertumbuhan plankton seperti pakan alami ikan/udang serta menetralkan/mengikat senyawa berbahaya dalam perairan kolam/tambak, pencampuran dengan pakan ikan/udang bakal memperkaya kandungan mineral, protein lemak nabati serta vitamin yang dibutuhkan ikan/udang.

POC Nasa pula mcmberikan mineral-mineral, protein, lemak nabati serta vitamin untuk meningkatkan bobot ternak/unggas, menambahnafsu makan ternak/unggas serta menurunkan tingkat kematian. POC Nasa berperan pula untuk membantu menurunkan kadar kolesterol dalam daging unggas serta mengurangi kadar amoniak pada kotoran unggas hingga akan mengurangi bau tidak sedap dari kotoran unggas.

POC Nasa memiliki fungsi yang multiguna.

Manfaat POC Nasa :

  1. Menambah kuantitas serta kualitas produksi tanaman serta kelestarian lingkungan/tanah (kuantitas-kualitas-kelestarian).
  2. Menjadikan tanah yang keras berangsur-angsur menjadi gembur.
  3. Melarutkan sisa pupuk kimia di tanah (dapat digunakan tanaman).
  4. Memberikan semua type unsur makro serta unsur mikro lengkap.
  5. Bisa mengurangi penggunaan urea, SP-36, serta KCl + 12,5%-25%.
  6. Setiap 1 liter POC Nasa mempunyai manfaat unsur hara mikro setara dengan 1 ton pupuk kandang.
  7. Memacu pertumbuhan tanaman serta akar, merangsang pengumbian, pembungaan serta pembuahan serta mengurangi kerontokan bunga serta buah (mengandung hormon/zpt auksin, giberelin serta sitokinin).
  8. Menambah daya tahan terhadap hama serta penyakit.
  9. Menambah bobot unggas (ayam, bebek) ternak besar (sapi, kambing) ikan serta udang.
  10. Menambah nafsu makan unggas ternak serta ikan/udang.
  11. Membantu perkembangan mikroorganisme tanah yang berguna untuk tanaman (cacing tanah, penicilium glaucum).


Wednesday, 28 August 2019

Tinjauan Umum Tanaman Pisang

Tinjauan Umum Tanaman Pisang


Tanaman pisang (Musa paradisiaca L.) bukan merupakan tanaman asli Indonesia, tetapi merupakan tanaman pendatang. Sentra aslinya adalah Asia Tenggara, kini tanaman pisang tersebar luas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia (Sunarjono, 1990). Tanaman pisang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat luas untuk berbagai macam keperluan hidup. Selain buahnya, bagian tumbuhan lainnya mulai dari akar sampai dengan daunnya banyak dimanfaatkan orang untuk berbagai keperluan (Cahyono, 1995).


Menurut Rukmana (1999) kedudukan tanaman pisang dalam sistematika tumbuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi: Spermatophyta; Sub divisi: Angiospermae; Kelas: Monocotyledonae; Ordo: Scitaminae; Famili: Musaceae; Sub famili: Muscoideae; Genus: Musa; Spesies: Musa paradisiaca L.

Morfologi Tanaman Pisang

Pohon pisang berakar rimpang dan tidak mempunyai akar tunggang. Akar ini berpangkal pada umbi batang. Akar terbanyak berada di bagian bawah tanah. Akar ini tumbuh menuju ke bawah sampai kedalaman 75-150 cm, sedangkan akar yang berada di bagian samping umbi batang tumbuh ke samping atau mendatar, dalam perkembangan akar bisa mencapai 4-5 m (Satuhu dan Supriyadi, 2003).

Batang pisang dibedakan atas dua macam, yaitu batang asli/bonggol (corm) dan batang palsu/batang semu. Bonggol terletak di bawah permukaan tanah dan mempunyai beberapa mata sebagai cikal bakal anakan dan merupakan tempat melekatnya akar. Batang semu bersusun dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi, tumbuh tegak diatas permukaan tanah (Rukmana, 1999). Bagian atas umbi batang terdapat titik tumbuh yang menghasilkan daun dan pada suatu saat akan tumbuh bunga pisang (jantung). Tinggi batang semu ini berkisar 3,5-7,5 m tergantung jenisnya (Satuhu dan Supriyadi, 2003).

Daun pisang umumnya berbentuk panjang lonjong dengan lebar tidak sama, bagian ujung daun dan tepinya rata. Letak daun terpencar dan tersusun dalam tangkai berukuran relatif panjang dengan helaian daun yang mudah robek (Rukmana, 1999).

Bunga pisang berumah satu dalam tandan. Daun pelindung bunga berwarna merah tua, berlilin dan mudah rontok dengan panjang 10-25 cm. Bunga betina berada di bawah bunga jantan (Satuhu dan Supriyadi, 2003). Rangkaian bunga membentuk buah yang disebut satu sisir. Umumnya rangkaian bunga hanya ditumbuhkan sampai 15 sisir sebab makin banyak sisir mengakibatkan buah tidak tumbuh optimal (Suhardiman, 2004).

Ukuran buah pisang bervariasi, panjangnya berkisar antar 10-18 cm dan diameter sekitar 2,5-4,5 cm. Buah berlinggur 3-5 alur, bengkok dan ujung meruncing dan membentuk leher botol. Daging buah (mesocarpa) tebal dan lunak. Kulit buah (epicarpa) yang masih muda berwarna hijau, namun setelah tua (matang) berubah menjadi kuning dan strukturnya tebal sampai tipis (Rukmana, 1999).

Karakteristik Buah Pisang

Pisang Kepok

Pisang kepok di Filipina dikenal dengan nama pisang saba, sedangkan di Malaysia disebut pisang nipah. Jenis pisang ini termasuk dalam tipe ABB. Batang besar, kekar, tinggi 3-3,5 m dan warna hijau muda (Sunarjono, 2002).

Bentuk buah agak pipih sehingga kadang disebut pisang gepeng. Beratnya per tandan dapat mencapai 14-22 kg dengan jumlah sisir 10-16. Setiap sisir terdiri dari 12-20 buah Satuhu dan Supriyadi, 2003). Pisang kepok yang lebih di kenal adalah pisang kepok putih dan pisang kepok kuning. Daging buah pisang kepok putih berwarna putih dan daging buah pisang kepok kuning berwarna kuning. Daging buah bertekstur agak keras. Pisang kepok kuning rasanya manis dan lebih enak daripada pisang kepok putih. Kulit buah sangat tebal, dan pada huah yang sudah masak berwarna hijau-kekuningan (Cahyono, 1995).

Pisang Ambon

Jenis pisang ini termasuk tipe AAA (Sunarjono, 2002). Kulit buah berwarna hijau walaupun sudah matang, tetapi pada kondisi sangat matang kulit berwarna hijau kekuningan dengan bercak-bercak coklat kehitaman (Cahyono, 1995). Daging buah berwarna putih kemerahan dan lunak. Rasanya manis, enak dan aromanya kuat. Berat per tandan mencapai 15-18 kg dengan jumlah sisir 8-12. Setiap sisir kurang lehih 20 buah. Ukuran buah 15-20 cm dengan diameter 3-3,5 mm. Buah berbentuk melengkung dengan ujung tumpul (Satuhu dan Supriyadi, 2003).

Pisang Mauli

Kelompok pisang ini biasanya dikonsumsi segar. Golongan pisang ini termasuk tipe AA (Sunarjono, 2002). Pisang mauli mempunyai pohon yang kecil, langsing, tinggi 2.0-2.5 m, lingkar batang 25-35 cm, warna hijau pucat atau kemerah-merahan. Daun berukuran kecil, panjang 1.8-2.0 m, berwarna hijau dengan tangkai daun kadang-kadang merah muda. Tandan buah kecil pendek (1.5-1.7 m), berbulu halus, merunduk, dengan 4-8 sisir. Buah kecil langsing, panjang 10 cm, berkulit tipis, warna daging putih atau kekuning-kuningan, kurang manis dan agak lembek (Rukmana, 1999). Panjang tandan 40-60 cm dengan berat 8-12 kg. Setiap tandan terdiri dari 5-10 sisiran dan setiap sisiran ada 13-18 buah (Sunarjono, 2002).

Pisang Raja

Golongan pisang ini termasuk tipe AAB. Tinggi batang 2,0-2,6 m. Panjang tandan 40-50 cm dengan berat 6-15 kg (Sunarjono, 2002). Pisang jenis ini tangkai buahnya terdiri atas 6-8 sisir yang masing-masing terdiri 11-15 buah. Berat satu buah pisang sekitar 92 g dengan panjang 12-18 cm. Bentuk buahnya melengkung, dengan bagian pangkal bulat. Lama tanaman berbunga sejak anakan adalah 14 bulan. Sedangkan buah masak 164 hari sesudah muncul bunga (Satuhu dan Supriyadi, 2003). Daging buah yang sudah matang berwarna kuning kemerahan, buah dimakan terasa legit dan manis dengan aroma harum. Buahnya cocok untuk hidangan buah segar atau olahan (Cahyono, 1995).

Syarat Tumbuh tanaman

Iklim

Pisang termasuk tanaman yang gampang tumbuh. Tanaman dapat tumbuh di sembarang tempat. Agar produktivtas tanaman optimal, sebaiknya pisang ditanam di dataran rendah. Ketinggian tempat haruslah dibawah 1.000 meter diatas permukaan laut. lkinn yang dikehendaki adalah basah dengan curah hujan merata sepaniang tahun (Satuhu dan Supriyadi. 2003). Pisang yang ditanam di dataran tadah huian memerlukan curah hujan rata-rata 2.000-2.500 mm per tahun. Pada daerah yang beriklim basah sering terjadi stagnasi (penggenangan) air. Genangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, sebab tanaman mudah terserang penyakit. Tanaman pisang membutuhkan keadaan lingkungan yang ideal dengan suhu udara antara 16-35 °C dengan suhu optimum 27°C. Dibawah suhu 16°C tanaman pisang akan tumbuh kerdil dan tangkai bunga akan muncul terlambat.

Proses fotosintesis tanaman pisang memerlukan sinar matahari secara langsung sepanjang hari (Cahyono, 1995). Tanaman  pisang masih tumbuh produktif di daerah beriklim kering antara 4-5 bulan asal ketersedian air tanah memadai pada ke dalaman 50-200 cm dari permukaan tanah. Daerah dengan iklim basah, air tanahnya dangkal perlu pengelolahan drainase yang baik.

Tanah

Tanah yang cocok untuk pertumbuhan pisang adalah tanah dengan solum (kedalaman tanah) dalam, tidak berbatu-batu, cukup mengandung air, namun tidak tergenang, tanah gembur dan banyak mengandung kadar humus. Jenis tanah yang cocok adalah jenis tanah liat berkapur atau aluvial. Keasaman (pH) tanah harus sesuai dengan pertumbuhan tanaman pisang yakni sekitar 5-7 (Cahyono, 1995).

Tanaman pisang mempunyai sistem perakaran yang dangkal, sehingga pertumbuhan secara optimal membutuhkan lapisan tanah atas (top soil) yang subur dan banyak mengandung bahan organik (Rukmana, 1999). Tanaman pisang dapat ditanam dan tumbuh dengan baik pada berbagai macam keadaan topografi tanah, baik pada tanah datar ataupun pada tanah miring (Cahyono, 1995).

Tuesday, 27 August 2019

Tinjauan Umum Tanaman Padi Sawah

Tinjauan Umum Tanaman Padi Sawah

Padi merupakan tanaman utama penghasil beras yang merupakan bahan makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia. Meskipun sebagai bahan makanan pokok, padi dapat digantikan atau disubstitusikan oleh bahan makanan lainnya, namun padi memiliki tersendiri bagi orang yang biasa makanan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Tanaman padi (Oryza sativa. L) termasuk dalam famili Graminiae dan spesies Oryza sativa L. Batang,nya terdiri dari ruas-ruas yang dalamnva berongga, dengan tinggi 1,0-1,5 meter. Dari setiap buku batang tumbuh daun yang berbentuk pita dan berpelepah. Tanaman ini mempunyai sifat merumpun yang artinya anak beranak. Dalain satu rumpun terdapat 40-50 batang (Soemartono, dkk. 1983).


Menurut Soedarmo (1991), ada tiga stadia umum proses pertumbuban tanaman padi:


  • Stadia vegetatif yaitu mulai dari perkecambahan sampai terbektuknya bulir . Pada varietas padi yang berumur pendek (120 hari) stadia ini lamanya 55 hari, sedangkan pada varietas umur panjang (150 hari) lamanya sekitar 85 hari.
  • Stadia reproduktif yaitu mulai dari terbentunya bulir sampai pembungaan. Pada varietas berumur pendek lamanya sekitar 35 hari, demikian pula pada varietas umur panjang.
  • Stadia pembentukan gabah atau biji yaitu dari pembungaan sampai pemasakan biji. Lamanya stadia ini sekitar 30 hari, baik untuk varietas umur pendek maupun umur panjang.

Menurut Daryanto (1983), tanaman padi secara garis besar dapat dibedakan atas dua macam, yaitu padi beras dan padi ketan. Menurut cara bertanamnya padi beras dapat dibedakan atas dua macam yaitu padi sawah dan padi kering.

Dalam rangka meningkatkan produktivitas usahatani semaksimal mungkin, maka pemerintah menetapkan program intensifikasi tanaman pangan khususnya padi sawah melalui sistem pasca usaha tani dan kini telah disempurnakan menjadi sapta usahatani.

Sapta usaha tani tersebut meliputi:

1. Pemakaian varietas unggul padi sawah

Varietas unggul padi sawah adalah varietas padi yang karena sifat pembawaannya dapat memberikan hasil yang tinggi pada satuan luas dan waktu. Varietas padi unggul mempunyai sifat-sifat penting yang dimiliki sepelti : daya hasil yang tinggi, berumur pendek, mampu menyerap pupuk dengan sebaik-baiknya dan tahan terhadap hama dan penyakit sena tahan kerebahan. Selain memiliki sifat-sifat tersebut varietas padi unggul perlu mempunyai sifat tambahan yang memenuhi selera petani sepefti : mutu harus baik, rasa nasi enak dan tahan rontok serta mudah merawatnya (Soemantoro, dkk 1984).

2. Cara budidaya tanaman padi

Dalam bercocok tanaman padi sawah terdapat langkah-langkah yang harus di perhatikan dan di laksanakan dengan baik , langkah-langkah tersebut adalah sebagai befikut:

a. Pengolahan tanah

Menurut Sugeng. (2001), pengolahan tanah untuk penanaman padi hatus sudah disiapkan sejak dua bulan sebelum penanaman. Pengolahan dapat dilakukall dengan dua cara yaitu dengan cara tradisional dan cara modern.


  1. Pengolahan tanah sawah dengan cara tradisional, yaitu pengolahan sawah yang dilakukan dengan alat-alat yang sederhana seperti sabit, cangkul, bajak dan garu yang kesemuanya dikerjakan oleh manusia atau dibantu oleh hewan misalnya , kerbau atau sapi.
  2. Pengolahan tanah dengan cara modern yaitu pengolahan sawah yang dilakukan dengan mesin. Dengan traktor dan alat-alat pengolah tanah lainnya.

b. Persemaian

Harus disiapkan sebaik-baiknya agar diperoleh bibit yang baik dan sehat. Tujuan persemaian adalah memberikan keadaan lingkungan yang baik untuk perkecambahan dan penumbuhan awal bagi tanaman padi tersebut (Siregar, 1981).

c. Jarak tanam

Menanam bibit di sawah perlu diatur supaya tidak terjadi persaingan untuk mendapatkan unsur-unsur makanan dan sinar matahari dan juga memudahkan penyiangan. Jarak tanam yang lazim dipakai adalah jarak tanam persegi panjang, dan bujur sangkar misalnya 20x20 cm, 25x25 cm dan 20x30 cm, tergantung pada varietas kesuburan tanah serta musim (Soemartono, dkk. 1984).

d. Jumlah bibit perlubang

Bibit yang telah dicabut dari persemaian boleh ditanam satu atau dua bibit dalam satu lubang dengan kedalaman 3 - 4 cm (Soemartono, dkk. 1984).

e. Penyiangan

Penyiangan dapat dilakukan dengan mencabut rumput satu persatu. Tetapi menyiang tidak hanya mencabut rumput saja, melainkan menggemburkan tanah agar akar tanaman dapat berkembang dengan baik. Penyiangan dapat selesai lebih cepat apabila menggunakan cangkul atau landak (Sugeng. 2001)

3. Pemupukan

Menurut Setyamidjaja (1986), pemupukan dimaksudkan untuk memenuhi unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman. Pemupukan dilaksanakan bila dalam kondisi lapangan tersedia air yang cukup, kondisi iklim baik, gangguan hama atau penyakit dapat diatasi tetapi produksi (hasil panen) rendah.

Untuk mengetahui kebutuhan pupuk bagi tanaman dan tanah perlu dipelajari dua hal yaitu unsur hara apa yang dibutuhkan dan berapa masing-masing unsur hara diperlukan oleh tanaman sehingga diperoleh hasil yang optimal. Pupuk yang sering dipakai adalah Urea, TSP dan KCI.

4. Pengendalian jasad pengganggu

Jasad pengganggu ini meliputi hama dan penyakit yang merusak tanaman padi. Hendaknya jasad pengganggu ini dikendalikan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan kerugian berafti.

Menurut (Sugeng. HR. 2001 ), ada beberapa hama dan penyakit dan juga cara pengendaliannya yaitu:

a) Burung

Burung banyak menyerang bulir padi pada saat padi sedang menguning. Oleh karena itu padi harus dijaga, apabila ada burung yang menyerang langsung dihalau.

b) Walang sangit

Walang sangit menyerang bulir padi yang sedang masak susu yaitu dengan jalan mengisap bulir tersebut. Walang sangit dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida atau di sulull (dipasang lampu) sehingga mereka tertarik dan berkumpul pada cahaya lampu tersebut.

c) Tikus

Kerugian yang ditimbulkan karena serangan tikus biasanya amat besar, mereka dapat merusak areal luas dalam waktu yang tidak lama. Tikus dapat dikendalikan dengan memberi umpan ketela, jagung dan sebagainya yang dicampur dengan phospit.

d) Ulat serangga

Serangga-serangga itu betelur pada daun, apabila menetas ulatnya merusak batang dan daun. Cara pengendaliannya harus disemprot dengan 4, pestisida, misalnya: Matador, Furadan, Desis, Lindomin, Hopcyn, dan sebagainya.

5. Pengairan

Menurut Soemartono, cikk. (1984), untuk perlumbuhan tanaman padi sawah banyak sekali membutuhkan air. Maka untuk maksud tersebut bidang sawah yang akan ditanami padi dibuatkan pematang, sehingga air dapat ditampung untuk menggenangi lahan. Meskipun masa perubuhan tanaman lIll memerlukan air namun ada pula masa-masa dimana sawah perlu dikeringkan. Masa mengeringkan ini antara lain : Sebelum bunting untuk mencegah timbulnya tunas-tunas yang tidak mengelttarkan bulir. Pada periode pemasakan bualt, untuk menyeragamkan dan  mempercepat pemasakan buah.

6. Penanganan pasca panen

Waktu panen tergantung dari varietas, iklim dan pemehharaan tanaman. Produksi untuk tujuan konsumsi mempunyai saat panen yang berbeda dengan produksi untuk tujuan keperluan benih. Pentanenan dengan tujuan konsumsi dilakukan jika selunth gabah tampak kuning hanya bultt-bulti sebelah atas masih hijau, isi gabah keras, tetapi mudah dipecahkan. Gabah untuk keperluan benih di panen pada stadia masak penuh, yang mana pada stadia ini buku-buku bagian atas berwarna kuning dan isi gabah sudah dipecahkan.

Padi yang telah dipanen akan mengalami perlakuan : perontokan, pembersihan, pengeringan dan penggilingan. Pengolahan padi bertujuan untuk mempersiapkan dan mengubah padi menjadi beras (Soemartono, dkk. 1984).

7. Pemasaran

Menurut Soemartono, dkk. (1984), peningkatan produksi padi akan berlangsung secara terus-menerus bilamana ada pemasaran. Untuk menjamin kelangsungan produksi padi diperlukan langkah berbagai bidang diantaranya bidang pengangkutan, penyimpanan dan pengolahan dan pembiayaan.

Tinjauan Umum Tanaman Pepaya


Tinjauan Umum Tanaman Pepaya

Sejarah Tanaman Pepaya

Tanaman pepaya (Carica papaya L.) berasal dari Amerika Tengah. Para Pedagang Spanyol berjasa dalam menyebar luaskan tanaman pepaya dari kawasan Amerika ke berbagai negara di dunia. Daerah pusat penyebaran tanaman ini di antaranya adalah Florida, Hawai, India, Afrika Selatan, dan Australia. Dalam perkembangan selanjutnya, budidaya tanaman pepaya telah menyebar luas di negara-negara yang telah dikenal daerah pertaniannya, baik daerah (negara) yang beriklim tropis maupun sub-tropis.


Salah satu petunjuk yang memperjelas bahwa tanaman pepaya mulai ditanarn di Indonesia pada abad ke-20 adalah rintisan Direktorat Pengembangan Produksi Pertanian Departemen Pertanian (dulu dikenal dengan nama Jawatan Perkebunan Rakyat) yang mendatangkan pepaya jenis semangka dari luar negeri sekitar tahun 1925-1930. Sejak tahun 1930 penanaman pertamanya telah menyebar luas di pulau Jawa. Saat ini tanaman pepaya telah dikembangkan dan ditanam 26 provinsi mulai meluas di provinsi Nusa Tenggra Timur (Nro, Sumatera Utara dan Selatan.

Botani Tanaman Pepaya

Kedudukkan tanaman dalam sistematik diklasifikan sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Brassicales
Suku : Caricaceae
Marga : Carica
Jenis : Carica papaya L.

Jenis Pepaya

Bentuk buah yang diketemukan di alam, pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua jenis pepaya, yaitu:

  1. Daging buahnya tebal, berwarna merah mirip daging buah semangka, dan citarasanya manis.
  2. Termasuk ke jenis semangka antara lain Pepaya Jinggo, Cibinong Bangkok Hortus Gold


Syarat Tumbuh Tanaman Pcpaya

Daerah yang paling optimum untuk pengembangan budidaya tanaman pepaya adalah ketinggian 600-700 m dpl, suhu udaranya berkisar antara 22-260 C, perlu sinar matahari penuh (tempat terbuka), curah hujan antar 1 (KX)-I mm tahun-i, dan iklimnya basah, Tanaman pepaya ideal ditanam pada tanah Latosol dan tanah-tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik (humus), tata udara dan tata (aeru dan drainase) tanahnya baik, dengan pH tanah sckltar 6-7.

Budidaya Tanaman pepaya

Penyiapan Bahan Tanaman 

Biji dapat diperoleh dari toko-toko produksi pertanian ataupun hasil karya pembenihan sendiri, Untuk lahan seluas satu hektar memerlukan  pupuk urea ± 250 g.

Penyiapan lahan (Pengolahan Tanah)

Lahan untuk kebun tanahnya dicangkul atau dibajak sampai gembur sambil membuang rumput-rumput liar (gulma). Kemudian buat bedengan-bedenan dengan lebar 200 atau 250 cm, tinggi 20 cm dan untuk panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan tanah jarak antara bedengan kurang lebih 50 cm setelah itu, dibuat lubang tanam yang berukuran 50 X 50 X 40 cm, kemudian biarkan 1-2 minggu Pengolahan tanah dapat memberikan keuntungan karena dapat memperbaiki drainase tanah pada lahan-lahan yang air tanahnya dangkal, dapat melakukan sela diantara pohon pepaya sebelum menghasilkan dan dapat meningkatkan kegemburan tanah.

Penanaman Pepaya

Penanaman dilakukan dengan dua cara, yaitu:

  1. Menanam tanaman  muda (bibit) yang dipindahkan dari persemaian ke lapangan, bibit dari polybag bersama tanah dan akar-akarnya.
  2. Menanam benih langsung di kebun biasanya di praktekkan bila kita tidak mengetahui asal-usul biji papaya. Penanaman benih ataupun bibit pepaya sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar penguapan dan suhu udara tidak terlalu tinggi.

Pemeliharan Tanaman Pepaya

  1. Penyiraman (pengairan), pada awal pertumbuhan penyiraman secara rutin 1-2 hari sekali, kemudian setelah tanaman dewasa secara beransur-angsur kegiatan ini dlkurangi. Waktu sebaiknya pagi atau sore hari, disiram menggunakan alat embrat (gembor). dilakukan denรฆn mencabut rumput liar (gulma) dengan tangan (manual) atau menggunakan cangkul harus secara hati-hati agar tidak merusak akrnya.
  2. Pemupukkan, dilakukan secara rutin dan bertahap baik pupuk kandang maupun pupuk buatan. Waktu pemupukkan disesuaikan dengan umur tanaman dan bentuk kultur penanamannya.
  3. Perlindungan tanaman, dilakukan dan dianjurkan adalah pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.

Panen Tanaman Pepaya

Panen perdana buah pepaya dapat diakukan pada umur 9-11 bulan setelah pindah tanam, atau tergantung kultivar (varietas) yang ditanam. Waktu panen yang tepat ditentukan oleh ciri-ciri sebagai Penampakkan visual warna buah telah menunjukkan 0/4 dari bagian buah berwarna kekuning-kuningan. Getahnya encer dan berwarna bening Tangkai buah mulai menguning atau terdapat garis-garis kuningpada ujtmg buah-buah telah mencapai ukuran maksimal dan biasanya posisi mulai dari bawah di antara buah-buahan yang ada pada Pohon pepaya yang masih pendek, cara panen buah dipetik dengan tangan. Usahakan agar buah jangan sampai terluka atau memar, karena bagian yang terluka akan merangsang (memudahkan) terjadinya pada saat dan pengangkutan.

Tanaman berikutnya dapat dilakukan secara rutin setiap 5-7 hari sekali atau tergantung kematangan buah, permintaan pasar (konsumen), dan tujuan penggunaan (pemanfaatan) produksi. Untuk bahan baku pengolahan manisan saat panen yang tepat adalah pada stadium buah belum matang atau mengkal.

Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu

Beberapa komponen yang dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Secara kultur teknis, meliputi pergiliran tanaman yang baik, menjaga kebersihan kebun, sesuai dosis, pengolahan tanah yang baik, pengairan yang baik.
  2. Secara mekanik atau fisik, meliputi pengumpulan hama, kemudian dibunuh (dimusnahkan). Secara Kimiawi menggunakan pestisida secara selektif.


Total Pageviews

Kategori