Friday, 2 September 2016

Penjelasan Lengkap Fenol

A. Metabolit Sekunder Golongan Fenol

Istilah senyawa fenol meliputi aneka ragam seyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Senyawa fenol cendrung mudah larut dalam air karena umumnya mereka seringkali berkaitan dengan gula sebagai glikosida dan biasanya terdapat dalam vakuola sel (Harborne, 1987).

Beberapa senyawa fenol alam telah diketahui strukturnya. Flavonoid merupakan golongan terbesar, tetapi fenol monosiklik sederhana, fenilpropanoid dan kuinon fenolik juga terdapat dalam jumlah besar. Beberapa golongan bahan polimer penting dalam tumbuhan seperti lignin, melanin, dan tanin adalah senyawa polifenol dan kadang-kadang satuan fenolik dijumpai pada protein, alkaloid dan diantara terpenoid (Harborne, 1987).

Fungsi fenolik bersifat sebagai racun terhadap pemangsa tumbuhan dan serangga. Senyawa flavonol yang termasuk golongan fenol berfungsi sebagai zat anti serangga yang menunjukan bahwa flavonoid merupakan faktor pertahanan alam (Harborne, 1987). Selain itu, polifenol juga merupakan senyawa turunan fenol yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Antioksidan fenolik biasanya digunakan untuk mencegah kerusakan akibat reaksi oksidasi pada makanan, kosmetik, farmasi dan palstik. Seyawa ini mempunyai aktivitas biologis sebagai penangkap radikal bebas sehingga dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk melawan penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas seperti penyakit kanker (Hernani dan Rahardjo, 2006). Senyawa fenolik juga memiliki aktivitas antiinflamasi dan antimikroba. Fenolik juga memiliki peranan misalnya lignin sebagai bahan pembangun dinding sel dan antosianin sebagai pigmen bunga (Harborne, 1987).


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB.

Hernani dan Rahardjo, M. 2006. Tanaman berkhasiat antioksidan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Penjelasan Lengkap Flavonoid

A. Metabolit Sekunder Golongan Flavonoid

Senyawa flavonoid adalah senyawa yang mengandung C15 terdiri atas dua inti fenolat yang dihubungkan dengan tiga satuan karbon. Cincin A memiliki karakteristik bentuk hidroksilasi phloroglusinol atau resorsinol dan cicin B biasanya 4-,3,4- atau 3,4,5- terhidroksilasi (Sastrohamidjojo, 1996).

Semoa flavonoid, menurut strukturnya, merupakan turunan senyawa induk flavon dan semuanya mempunyai sejumlah sifat yang sama. Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai glikosida. Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan berpembuluh tetapi beberapa kelas lebih tersebar daripada yang lainnya (Harborne, 1987).

Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoid yang memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavonoid memberikan warna kuning atau jingga, antosianin memberikan warna merah, ungu atau semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali hijau. Secara biologis, flavonoid memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan pada tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoid mempunyai rasa pahit hingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu (Sastrohamidjojo, 1996).

Pada tumbuhan tingkat tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun dalam bunga. Sebagai pigmen bunga, flavonoid berperan jelas dalam menarik burung dan serangga penyerbuk bunga. Beberapa flavonoid tidak bewarna tetapi menyerap sinar UV, barangkali penting juga dalam mengarahkan serangga. Fungsi flavonoid lainnya bagi tumbuhan yang mengandungnya adalah untuk mengatur pertumbuhan, fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus. Aktivitas antioksidasi yang juga dimiliki oleh komponen aktif flavonoid tertentu digunakan untuk menghambat pendarahan dan antiskorbut (Robinson, 1995).

Kelompok Artocarpus adalah penghasil beragam jenis flavonoid yang unik. Beberapa senyawa dari jenis flavonoid ini telah diketahui memiliki efek biologis yang menarik, seperti antiinflamasi, sitotoksik dan sebagai inhibitor transpor asam amino yang tergantung kepada ion K kepada usus Bombyx meri.

Menurut Basir dan Dachrianus (2002), senyawa flavonoid juga telah diisolasi dari tumbuhan sari rapet (Ficus deltoideus Blume) yang banyak digunakan kaum wanita di Indonesia sebagai pelangsing tubuh setelah melahirkan. Setelah itu, getahnya digunakan untuk membasmi kutil dan membunuh ikan.


Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Basir, D & Dachriyanus. 2002. 5 Metoksi -6,7-Furanokumarin dari Daun Tumbuhan Sari Rapet (Ficus deltoideas Blume). Bull. The Indo. Soc. of Nat. Prod. Chem. 2, 1. January-June 2002. Bandung. pp 26-30.

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB.

Robinson, T. 1995. Kandungan Kimia Organik Tumbuhan Tingi. Bandung: Penerbit ITB.

Sastrohamidjojo, H. 1996. Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta: Penerbit Gadjah Mada Universitas Press.

Thursday, 1 September 2016

Penjelasan Lengkap Golongan Metabolid Sekunder (Alkaloid)

A. Golongan Alkaloid

Alkaloid adalah senyawa organik siklik yang mengandung nitrogen dengan bilangan oksidatif negatif yang penyebarannya terbatas pada makhluk hidup. Alkaloid umumnya dinyatakan sebagai senyawa basa yang mengandung satu atau lebih nitrogen yang merupakan bagian dari sistem siklik. Atom nitrogennya hampir selalu dalam bentuk gugus amina atau amida dan tidak pernah dalam bentuk nitro atau diazo. Subtituen oksigen umumnya dalam bentuk gugus fenol, metoksil atau metilendioksi (Harborne, 1987).

Alkaloid juga merupakan golongan zat hasil metabolisme sekunder terbesar pada tumbuhan. Telah diketahui ada sekitar 5.500 senyawa alkaloid yang tersebar pada berbagai famili (Harborne, 1987). Beberapa famili tertentu dari tumbuhan monokotiledon dan dikotiledon memiliki alkaloid yang cukup beragam. Pada tumbuhan, alkaloid terdapat sebagai garam yang dapat larut atau membentuk kombinasi dengan tanin. Senyawa ini umumnya terdapat pada akar, batang, kulit kayu dan daun (Meistiani, 2001).

Kebanyakan alkaloid tidak bewarna, tetapi alkaloid yang lebih kompleks terutama yang mengandung gugus aromatis akan memberikan warna. Hampir semua alkaloid keaktifan farmakologinya tertentu, ada yang bersifat racun bagi manusia tetapi banyak pula yang digunakan dalam bidang pengobatan. Pengujian sederhana untuk mengetahui adanya alkaloid pada tumbuhan adalah rasa pahit dilidah jika salah satu bagian tumbuhan tersebut (daun atau buah segar) dikunyah (Harborne, 1987).

Menurut Sumiwi (1992), fungsi alkaloid bagi tumbuhan antara lain sebagai zat beracun untuk melawan serangga atau hewan pemakan tanaman, faktor pengatur tumbuh, substansi cadangan untuk memenuhi kebutuhan akan N atau elemen-elemen lain yang penting bagi tumbuhan dan merupakan hasil akhir pada reaksi detoksifikasi dari suatu zat yang berbahaya bagi tumbuhan. Menurut Solomon, kegunaan alkaloid dalam bidang kesehatan adalah untuk memacu sistem saraf, menaikan tekanan darah, mengurangi rasa sakit dan dapat melawan infeksi mikrobial (Meistiani, 2001).
Gambar sitisina


Sumber rujukan/Daftar Pustaka:

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB.

Meistiani, Y. 2001. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Alkaloid dari Akar Kuning (Arcangelisia flava (L) Merr). Skripsi Jurusan Kimia FMIPA, IPB.

Sumiwi. 1992. Kromatografi Lapis Tipis Alkaloid dari Daun Kelor (Moringa Oleifera Lamrk). Laporan Penelitian. FMIPA. Universitas Padjajaran. Bogor.



Penjelasan Lengkap Steroid

A. Metabolit Sekunder Golongan Steroid

Golongan senyawa steroid merupakan molekul yang besar dan struktur dasar steroid adalah hidrokarbon tetrasiklik jenuh yang terdiri atas 17 atom karbon. Steroid yang terdapat dalam jaringan tanaman berasal dari triterpen sikloartenol, setelah triterpen ini mengalami serentetan perubahan tertentu. Steroid terdiri atas beberapa kelompok senyawa dan pengelompokan ini didasarkan pada efek fisiologik yang diberikan oleh masing-masing kelompok. Ditinjau dari segi struktur molekul, perbedaan antara berbagai kelompok steroid ini ditentukan oleh jenis subtituent, R1, R2, dan R3 yang terikat pada kerangka dasar karbon. Perbedaan antara senyawa yang satu dengan yang lain dari suatu kelompok tertentu ditentukan oleh panjang rantai karbon R1; gugus fungsi yang terdapat pada subtituen R1, R2, dan R3; jumlah serta posisi gugus fungsi oksigen dan ikatan rangkap, serta konfigurasi dari pusat-pusat asimetris pada kerangka dasar karbon (Achmad, 1986).

Penjelasan Lengkap Steroid
Steroid secara struktur berkaitan dengan terpenoid, tetapi beberapa jalur khusus dalam biosintesisnya telah menghasilkan karakteristik-karakteristik struktur tertentu pada fungsi-fungsi biologi. Disamping penggabungan kepala-ekor, jalur-jalur lain mungkin dapat terjadi, seperti skualen yang merupakan prekursur untuk pembentukan terpen dan steroid, disintesa melalui dimerisasi ekor dengan ekor famesil pirofosfat. Sedangkan dimerisasi yang analog pada geranil-geranil pirofosfat (GGPP) menghasilkan sfitoen, yang merupakan prekursor tetraterpenoid dan karoltenoid (Darwis, 2000).

Senyawa steroid memiliki peran sebagai hormon kelamin, asam empedu dan lain-lain pada senyawas satwa sedangkan pada tumbuhan sebagi pengatur tumbuh. Selain itu, steroid dapat meningkatkan permaebilitas membran sel dan merangsang proses pembangunan. Dalam pengobatan, senyawa ini berfungsi sebagai antibiotik diantaranya anti jamur, bakteri dan virus (Vickery dan Vickery, 1981).

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Achmad, S. A. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Karunika.

Darwis, D. 2000. Uji Kandungan Fitokimia Metabolid Sekunder: Metode Lapangan dan Laboratorium. Workshop Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Bidang Kimia Organik Bahan Alam Hayati. DITJEN DIKTI DEPDIKNAS. 9-14 Oktober 2000. Padang.

Vickery ML dan Vickery B. 1981. Secondary Plant Metabolism. London And Basiing Stoke. The Memillan Press Ltd.

Pengertian Senyawa Metabolit Sekunder Dan Fitokimia Secara Umum

Pengertian Senyawa Metabolit Sekunder Dan Fitokimia Secara Umum

A. Senyawa Metabolit Sekunder Dan Fitokimia Secara Umum

Hutan tropika tidak hanya menghasilkan kayu komersial tetapi juga mengandung banyak jenis bukan kayu yang bermanfaat dan bernilai komersial, plasma nutfah (sumber daya genetik), obat-obatan, bahan pestisida dan lain-lain (Sudrajat dkk, 2003).

Hutan umumnya adalah kumpulan berjenis-jenis tumbuhan yang merupakan sumber daya alam hayati dan sekaligus sebagai gudang senyawa kimia, baik berupa senyawa kimia hasil metabolit primer maupun sebagai sumber senyawa metabolit sekunder. Senyawa metabolit primer seperti protein, karbohidrat dan lemak di gunakan sendiri oleh tumbuhan tersebut untuk pertumbuhanya, sedangkan senyawa metabolit sekunder seperti terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid serta alkaloid merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktivitas yang berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama penyakit baik untuk tumbuhan itu sendiri maupun lingkungannya. Akhir-akhir ini senyawa kimia sebagai hasil metabolit sekunder pada berbagai jenis tumbuhan telah banyak dimanfaatkan sebagai zat warna, racun, aroma, obat-obatan, dan lain sebagainya (Darwis, 2000).

Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa metabolid sekunder alkaloid, flavonoid dan terpenoid/steroid dapat mempunyai aktivitas antioksidan.

Metode fitokimia digunakan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder, makromolekul serta penggunaan data yang diperoleh untuk menggolongkan tumbuhan. Metode ini juga penting untuk menentukan ciri atau sifat kimia dari fitotoksin dan fitoaleksin (Harborne, 1987).

Secara umum kandungan metabolit sekunder dalam bahan alam hayati dikelompokan berdasarkan sifat dan reaksi khas suatu metabolit sekonder dengan pereaksi tertentu.

Adapun golongan-golongan metabolit sekunder sebagai berikut:

  1. Steroid  (klik untuk melanjutkan membaca)
  2. Alkaloid  (klik untuk melanjutkan membaca)
  3. Flavonoid  (klik untuk melanjutkan membaca)
  4. Fenol  (klik untuk melanjutkan membaca)
  5. Saponin  (klik untuk melanjutkan membaca)

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Darwis, D. 2000. Uji kandungan fitokimia metabolit sekunder: Metode lapangan dan laboratorium. Workshop pengembangan sumber daya manusia dalam bidang kimia organik bahan alam hayati. Ditjen Dikti Depdiknas. 9-14 Oktober 2000, Padang

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB.

Sudrajad, Kartika, R. dan Mintargo, D. 2003. Isolasi bahan bioaktif kulit pohon kayu bawang kalimantan (Scorodocarpus borneensis Becc) sebagai larvasida. Laporan Penelitian FMIPA, Universitas Mulawarman Samarinda.


Penjelasan Lengkap Radikal Bebas

A. Penjelasan Radikal Bebas

Radikal bebas adalah suatu molekul atau senyawa yang mempunyai elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya. Contoh radikal bebas yakni radikal hidroksil (OH). Keberradaan satu atau lebih dari elektron yang tidak berpasangan tersebut menyebabkan kecendrungan untuk menarik elektron dari molekul lainnya, sehingga radikal bebas sangat reaktif. Selain radikal bebas tersebut terdapat senyawa bersifat oksidan baik merupakan spesies oksigen reaktif dan spesies nitrogen aktif. Senyawa ini dapat terbentuk dari oksigen dan nitrogen yang teraktivas baik berupa radikal bebas seperti superoksida (O2), hidroksil (OH), radikal nitrit oksida (NO), dan bentuk non radikal bebas seperti hidrogen peroksida (H2O2), asam nitrit (HNO2) (Puspitasari, 2007).


Sebagai senyawa yang reaktif, radikal bebas dapat terbentuk melalui berbagai reaksi kimia baik yang terjadi di dalam tubuh manusia maupun yang terjadi di lingkungan di luar tubuh manusia. Dari sumber radikal bebas yang terbentuk di dalam tubuh, radikal bebas dapat terbentuk dari berbagai proses reaksi kimia yang terus menerus di dalam sel-sel tubuh manusia.

Sedangkan sumber radikal bebas yang berada di luar tubuh manusia diantaranya seperti obat (Aminoglikosida, timbal dan arsen), paparan radiasi, asap rokok, logam (aluminium, timbal dan arsen), pestisida, alkohol, dan hidrokarbon halogen (Tjay dan Rahardja, 2002).

Menurut Steven Wm Fowkes keterlibatan reaksi radikal bebas dalam perjalanan berbagai penyakit degeneratif telah banyak diketahui oleh para ahli. Akan tetapi keterlibatan potensi oksidasi reduksi dalam proses berbagai penyakit masih belum banyak secara luas dipahami. Dalam sistem biologis, karbohidrat dan bahan lemak akan dibakar (dioksidasi) untuk menghasilkan energi. Pada akhirnya, semua energi butuh bahan bakar untuk proses yang tak terhitung dalam hidup berasal dari reaksi redoks. Radikal bebas sangat tidak stabil dan bereaksi sangat cepat dengan senyawa lain dengan cara menangkap elektron untuk menstabilkannya. Pada umumnya radikal bebas menyerang molekul stabil yang terdekat untuk menarik elektronnya. Ketika molekul yang diserang melepaskan elektronnya maka molekul tersebut juga menjadi radikal bebas sehingga terjadi reaksi berantai. Dan reaksi berantai yang terjadi, radikal bebas dapat menyebabkan oksidasi pada membran fosfolipid, protein dan DNA sehingga menyebabkan terjadinya peroksidasi lemak, kerboksilase protein, dan hidroksilasi nukleotida.

Akibat reaksi tersebut dengan komponen dari sel-sel tubuh akan terbentuk radikal bebas yang akan menyebabkan kerusakan sel bahkan kematian sel baik karena apoptosis maupun nekrosis hingga ketidakstabilan yang mengarah pada mutasi. Reaksi berantai tersebut akan terus berlanjut sampai radikal bebas tersebut dihilangkan oleh senyawa antioksidan. Pada reaksi berantai yang menyerang komponen lipid akan terjadi peroksidasi lipid. Pada peroksidasi lipid terjadi peningkatan superoksida yang selanjutnya menyebabkan terbentuknya radikal hidroksil yang sangat reaktif melalui reaksi Fenton dan Haber Weiss.

Sumber rujukan/Daftar pustaka:

Puspitasari, E. 2007. Uji aktivitas antioksidan jus pegaan (Centella asiatical) dengan metode kekuatan reduksi. Skripsi Jurusan Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman Samarinda.

Tjay, T.H dan Rahardja, K. 2002. Obat-obat penting. Edisi kelima. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Total Pageviews

Kategori